Minggu, 09 Oktober 2016

Review Film Train To Busan (2016) : Permainan Adrenalin yang Emosional

Oke. Di postingan kali ini gue pengen bahas film yang belakangan lagi booming dimana-mana. Yap, Train To Busan. Bisa dibilang ini adalah film zombie pertama dari Asia yang sukses mencuri perhatian penonton global. Penontonnya nggak cuma K-Popers, mereka yang nggak suka K-Pop atau K-Drama pun tertarik nonton. Kabarnya, bahkan film ini jadi buruan para penikmat film di Amerika sana. Sebuah alasan yang cukup menggoda buat nonton film ini, sekalipun kamu nggak suka dengan film bertemakan zombie.


Sinopsis. Seorang anak bernama Soo An (Kim Soo An) adalah korban perceraian yang kini tinggal bersama ayah dan neneknya di Seoul. Ayahnya, Seok Woo (Gong Yoo), adalah seorang pemain saham dengan jadwal super padat dan penuh tekanan. Nggak heran, wataknya pun keras dan sedikit arogan. Soo An sendiri yakin kalo sifat keras ayahnya itulah yang bikin sang ibu akhirnya minggat dan meninggalkan mereka.

Menjelang ulang tahun, Soo An meminta ijin ayahnya untuk pergi ke Busan buat menemui sang ibu. Awalnya Soo An bersikeras buat pergi sendiri, tapi sang nenek berusaha ngebujuk Seok Woo buat pergi nganterin Soo An naik kereta. Jadilah mereka pergi naik kereta cepat menuju Busan.


Bencana dimulai waktu seorang cewek dengan badan lebam dan kaki pincang masuk ke kereta itu. Yep, ini dia bibit zombie yang siap menginfeksi seluruh penumpang. Dimulai dengan menggigit seorang pramugari kereta, hingga akhirnya menyebar ke hampir seluruh gerbong. 

Kereta pun dipenuhi oleh histeria mereka yang panik dan berusaha kabur tanpa tahu persis apa yang sedang terjadi. Perlahan, situasi gawat pun mulai terbaca, kereta itu dipenuhi zombie ganas yang siap menggigit siapa saja. Mereka yang tersisa pun berusaha menyelamatkan diri dengan berbagai strategi, baik itu saling bekerja sama hingga mengorbankan penumpang yang lain.

Tokoh-tokoh pemegang cerita pun muncul, diantaranya Soo An dan Seok Woo, suami dan istrinya yang sedang hamil besar, pasangan SMA, dua nenek bersaudara dan seorang tunawisma yang bisa jadi orang gila. Bersama-sama mereka berusaha menyelamatkan diri dengan 'senjata' seadanya berikut terlibat konflik batin dan emosi yang rumit.

 

Review. Wow. Itulah reaksi gue setelah nonton film ini. Sangat terkesan berikut ngos-ngosan udah kayak orang habis lari marathon, ditambah uraian air mata yang yang bikin stok tisu lumayan terkuras. Kombinasi yang sangat unik dari sebuah film thriller. Mainin adrenalin iya, ngaduk-ngaduk emosi juga iya. Ini film maunya apa sih bikin hati gue cedera aja :(



Gue salut sama pembagian porsi di film ini yang pas banget. Ada tegang-tegangnya, sedihnya, takutnya, dan ditutup dengan perasaan lega waktu akhirnya ada yang selamat di antara mereka. Gak ada tuh adegan-adegan hardcore khas film zombie macam kepala pecah terus isinya meluber kemana-mana atau perut sobek dan daging manusia yang dicabik dan dikunyah. Visual efek nya juga cukup sederhana tapi lumayan oke. Bisa dibilang film ini sangat simpel buat ukuran film zombie, apalagi kalo dibandingin sama film zombie ala Amerika, dimana para tokoh utama justru menikmati rasa takut kala dikejar zombie. Tapi, justru inilah yang jadi kekuatan Train To Busan. Storylinenya kuat, nggak cuma sekedar kejar-kejaran tapi ada 'isinya'.

Alih-alih dibikin ngilu sama adegan gigit-gigitan, gue lebih ngilu liat bumil dengan perut gede lari kenceng banget waktu dikejar zombie. Belum lagi dia loncat, nyaris ketimpa kereta, dan nyaris kena gigit. Sepanjang film gue jadi berdo'a, ya tuhan selamatkanlah ibu hamil itu. Gue nggak peduli dengan ahjussi tamfan gue Gong Yoo karena katanya dia bakal main drama lagi nanti, tapi selamatkanlah ibu hamil itu. Begitulah kira-kira. Gue juga salut sama Kim Soo An yang bisa menghidupkan tokoh Soo An dengan sangat baik. Aktingnya keren :')

Oh ya, tokoh suami si bumil (gue lupa namanya) justru lebih bersinar di film ini dibanding Seok Woo yang merupakan tokoh utama. Di situasi genting begitu, dia masih sempet becandain istrinya walau akhirnya pengorbanan yang dia lakuin nggak main-main. Pesan moral tentang kasih sayang orang tua juga jadi pemanis banget di film ini. Setiap orang tua pasti rela berkorban apapun demi anaknya, bahkan waktu si anak belum lahir ke dunia. Ah sudahlah, gue jadi kangen emak bapak :')



Overall gue sangat ingin merekomendasikan film ini buat siapapun di luar sana. Buat kamu yang nggak suka K-Drama, buruan nonton! Buat kamu yang nggak suka film jombi-jombian, yaelah cepetan nonton! Buat kamu yang masih ragu nerima cinta dari seseorang, cepetan nonton!!!! Buat para pasangan yang lagi butuh film buat ndusel-ndusel ke ketek pasangannya atau bahkan jones sekalian, buruan nonton!!!!! Jadi, gimana nih produser-nim, saya jadi hired buat marketing kan? :p

Score : 9/10

3 komentar:

  1. Omoooo kenapa sih kamu selalu bisa bikin review yang bagus dan enak dibaca? Hhhh...

    Oke, film zombie satu-satunya yang aku tonton adalah WWZ. Dan itu bener-bener bikin tegang. Itu juga menurutku nggak begitu ngeri sih, cuma kejar-kejaran dan gigit-gigitan. Tapi kalo dr setting tempat, Train to Busan pasti lebih tegang ya soalnya ini di kereta hahaha.

    Oke deh kayaknya ini film emang rekomen. Aku mau nonton kalo suasana hati lagi tenang :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. ah jinjja? mkasih loh jadi terhura :')
      kalo kubilang film ini lebih oke dari film jombi luar karena storylinenya yang kuat. gak cuma kejar2an doang tapi ada 'isinya'. ayok cepetan nonton ih moal gagal bagus banget ini :))))

      Hapus
    2. Ne, jinjja :))

      Oke deh aku jadi niat nonton ini haha. Padahal awalnya kukira ini cerita horror makanya nggak mau nonton.

      Kelarin drama on going dulu ah biar emosinya nggak campur aduk hahaha

      Hapus