Selasa, 16 Februari 2016

Review Film The Danish Girl (2015) : Kisah Transgender Pertama di Dunia

Apa yang kamu pikirkan ketika mendengar kata ‘transgender’? Mungkin sebagian dari kita masih merasa tabu dengan keberadaan kaum transgender. Thailand boleh-boleh aja terkenal sebagai produsen ‘cewek’ transgender yang cantiknya melebihi cewek tulen, tapi mungkin kamu gak bakal menduga kalo cewek transgender pertama di dunia berasa dari Negara Denmark.


Yup, The Danish Girl mengisahkan tentang orang pertama yang melakukan operasi ganti kelamin di tahun 1930-an. Waktu itu teknologi kedokteran belum secanggih sekarang, makanya resikonya lebih berbahaya bahkan bisa bikin kematian. Tapi sosok Einar alias Lili tetap maju tak gentar buat mewujudkan impiannya menjadi perempuan. Film ini diangkat dari novel berjudul ’Man Into Woman’ yang dirilis tahun 1933 dan juga terinspirasi dari buku harian Lili Elbe.


Sinopsis. Einar Wegener (Eddie Redmayne) adalah seorang pelukis pemandangan alam yang tinggal bersama istrinya di Copenhagen, Denmark. Istrinya, Gerda Wegener (Alicia Vikander) juga merupakan seorang pelukis. Berbeda dengan Einar, Gerda lebih menyukai lukisan portrait, yang pada waktu itu kurang mendapat apresiasi dari pakar seni. Einar sudah memiliki nama yang cukup diperhitungkan sebagai pelukis profesional. Berlawanan dengan  Gerda yang masih berjuang agar karya-karyanya mendapat apresiasi dan pengakuan, entah karena karyanya bisa dipajang di galeri seni atau membuat pamerannya sendiri. Pakar seni bilang kalo lukisan-lukisan Gerda saat itu masih belum layak.


Suatu hari, Gerda iseng menyuruh suaminya untuk menjadi model lukisan. Einar harus memakai stocking dan sepatu perempuan, Gerda bahkan memakaikan baju perempuan pada Einar. Tanpa disadari, Einar merasa menikmati perannya sebagai ‘perempuan’ dengan memakai barang-barang yang gak semestinya dia pake.  Tanpa diduga, lukisan Gerda yang menjadikan Einar sebagai model pun mendapat apresiasi yang bagus. Nama Gerda mulai dikenal sebagai pelukis berbakat dengan modelnya yang ‘misterius’. Gerda bahkan sampai diundang ke Perancis untuk mengelar pamerannya sendiri.


Keisengan Gerda akhirnya berbuah petaka. Einar merasakan kembali ‘jiwa lamanya’ yang selama ini dia pendam.  Dulu Einar sempat merasakan kehadiran ‘sosok lain’ dalam dirinya, yaitu Lili Elbe. Lili adalah sosok perempuan yang hidup dalam tubuh Einar. Einar bahkan terang-terangan mengakui kalo dia pernah berciuman dengan teman laki-lakinya semasa kecil, yaitu Hans.


Einar gak bisa lagi membendung jiwa perempuannya. Dia makin sering pake baju-baju perempuan dan gak mau lagi dipanggil Einar. Einar Wegener pun akhirnya menjelma menjadi Lili Elbe. Gerda pun gak bisa tinggal diam melihat suaminya berubah menjadi perempuan. Gerda mencoba segala cara biar Einar segera insyaf tapi apa daya Einar akhirnya memutuskan untuk merubah kelaminnya menjadi perempuan, walaupun dengan resiko yang membahayakan.


Review. Pertama-tama gue mau bilang jangan pernah ngajak anak kecil nonton film ini ya.  Kalo mau nonton sendiri aja, gak usah ajak temen apalagi anak kecil. Ini serius, beneran. Terlalu banyak adegan yang ‘mengeksplor’ walaupun ‘dibungkus’ dengan kata bernama seni dan sinematografi yang bagus. Gue sebenernya gak begitu kaget dengan kemunculan Einar tanpa sehelai benang pun waktu dia berfantasi menjadi Lili. Yang ada kamu bakal risih sendiri sekalipun nontonnya sama temen. Ah sudahlah, tak usah diceritakan terlalu banyak :p


Gue suka sama penyajian film ini dari awal sampe akhir. Dengan latar tahun 1920-1930an yang retro banget mulai dari perabotan rumah sampe baju-baju yang mereka pake. Sinematografi yang dibikin gelap dan suram bener-bener mewakili keputusasaan para karakternya. Mulai dari Einar yang akhirnya menyerah hidup sebagai laki-laki dan memilih buat jadi perempuan walaupun punya istri cantik yang sayang banget sama dia. Juga Gerda yang harus merelakan suaminya berubah jadi perempuan, tapi tetep setia dan menerima sampe akhir hayat. Kehadiran tokoh Hendrik dan Hans juga pas dan gak menuh-menuhin alur doang. Walaupun peran Hans yang sempet jadi penggoda agak kurang penting sih di sini.


Gue suka sama pemeran Einar, dia bisa meranin dua tokoh sekaligus dengan karakter Lili yang dominan. Cara dia dandan, pake baju perempuan, kedip-kedip genit di kaca, itu berhasil bikin gue geli tapi sekaligus salut sama Lili. Tapi tokoh yang berhasil merebut hati gue di sini adalah Gerda. Gerda adalah sosok istri penyayang dan sabar walau kadang agak nyebelin ye. Dia dengan setia menemani dan mendukung suaminya bahkan di keadaan super absurd. Coba bayangin suatu hari kamu sudah menikah dengan pria idaman kamu, tapi setelah 6 tahun menikah tiba-tiba doi ‘belok’dan mulai pake baju-baju kamu mulai dari dres, sepatu, sampe gaun tidur.


Tapi setelah gue nonton, gue pikir tokoh utamanya tuh bukan Einar ataupun Lili, melainkan Gerda. Impian Gerda buat jadi pelukis terkenal diceritakan dengan lebih ‘ngotot’ ketimbang impian Einar untuk berubah menjadi Lili. Perjalanan Einar buat menebus impiannya juga agak kurang. Peran Gerda lebih menonjol, mulai dari iseng ngedandanin suaminya hanya demi sebuah lukisan, penyesalan dia waktu Einar mulai berubah jadi perempuan, sampe kesetiaan dia nemenin dan ngedampingin suaminya bahkan saat sang suami tidak lagi bisa berperan menjadi suaminya. Gerda sendiri juga agak kelainan deh kayaknya, bisa diliat dari lukisan-lukisannya yang rata-rata erotis semua. Selain Gerda, yang paling juara dari film ini adalah sinematografinya.



Pesan dari film ini, buat para cowok, jangan pernah iseng pake baju atau apapun barang milik pacar ataupun sodara perempuan kalian. Karena salah satu artis yang juga ‘belok’pernah bilang, jangan coba-coba jadi ngondek eim, ntar lama-lama jadi permanen.  Score 7,5/10

Tidak ada komentar:

Posting Komentar