Sabtu, 20 Februari 2016

Review Film The Peanuts Movie (2015) : Hiburan Ringan Namun Berkesan

Siapa tak kenal Snoopy? Sosok anjing berbulu putih dengan kuping hitam yang ucul abis ini sering banget nempel di berbagai pernak-pernik jaman gue SD, mulai dari tempat pensil, tas sekolah, sampe celengan kaleng yang sering gue colongin isinya waktu pengen jajan tapi nggak dikasih duit sama emak :p


Tapi jujur, gue baru tau kalo Snoopy pernah dirilis serial kartunnya dan sekarang baru aja dirilis versi the movie-nya. Ampun om, tapi serius gue beneran baru tau :( Pernah diputer di TV Indonesia gak sih? :(


The Peanuts Movie menceritakan kehidupan sekumpulan anak SD dengan segala keceriaan dan kepolosan khas anak-anak. Tokoh utamanya adalah Charlie Brown, sosok anak berkepala botak dengan rambut yang hanya secuil di atas kening—somehow gue langsung keinget Upin & Ipin—dengan karakter canggung, pemalu, ceroboh, minderan dan selalu gagal dalam hidupnya. Karakter ini juga mengingatkan gue sama Nobita. Singkatnya, Charlie adalah sosok Upin & Ipin dengan jiwa Nobita terperangkap di dalamnya. Bedanya di sini, Charlie punya hewan peliharaan yaitu seekor anjing bernama Snoopy dan burung berwarna kuning bernama Woodstock. Mereka adalah satu paket yang nggak terpisahkan.


Charlie memiliki teman-teman yang tergabung dalam ‘The Peanuts Gang’. Ada Sally, Lucy (adik Charlie) yang centilnya minta ampun, Linus, Peppermint Patty si tukang molor, Marcie dan tokoh menarik lainnya. Masing-masing tokoh memiliki karakter yang unik yang membuat cerita semakin lengkap.


Cerita dimulai ketika sekolah Charlie kedatangan murid pindahan baru yang rumahnya dekat dengan Charlie. Dia adalah Little Red-Haired Girl. Charlie merasakan sesuatu di hatinya sejak kedatangan Little Red Haired Girl. Tapi Charlie yang canggung dan pemalu pun merasa takut buat ngajak dia kenalan. Dengan bantuan teman-temannya, khususnya Linus dan Snoopy, Charlie memulai usaha pedekatenya. Charlie berusaha buat menampilkan segala bakat yang dia punya buat menarik perhatian sang gebetan.


Suatu hari, Charlie yang biasanya mendapatkan nilai jelek di kelasnya, tiba-tiba mendapatkan nilai tertinggi.  Sungguh sebuah keajaiban buat Charlie. Semua temannya langsung mengelu-elukan Charlie, kecuali Lucy. Namun kemudian Charlie mengetahui bahwa nilai bagusnya itu adalah sebuah ‘kecelakaan’, Charlie pun merasa kecewa dan kehilangan kepercayaan dirinya. Charlie pun memutuskan mundur dari usahanya mendekati Little Red Haired Girl. Mirip-mirip cerita Stand By Me nya Doraemon nggak sih?

Film ini disutradarai oleh Steve Martino dari hasil adaptasi komik strip “Peanuts” karya Charles M. Schulz..usut punya usut,  komik strip “Peanuts” sendiri sudah dipublikasikan sejak sekitar 50 tahun yang lalu dan edisi terakhirnya dirilis pada hari pertama tahun 2000. Masih jadi misteri mengapa gue sama sekali nggak mudeng dengan serial ini, padahal eksistensinya cukup lama ya, bisa sampe setengah abad gitu.

Kabarnya lagi , “The Peanuts Movie” nggak mengalami banyak perubahan dari premis komik stripnya. Cerita berpusat tentang keseharian dari The Peanuts Gang yang terdiri dari anak-anak SD yang ceria dan penuh warna. Mirip-mirip Upin & Ipin ya?



The Peanuts Movie punya alur yang sederhana. Ceritanya khas anak-anak. Buat penggemar serial ini yang mungkin sekarang udah pada berumur mateng, mungkin film ini bisa menghadirkan nostalgia yang bikin kangen.

Gue emang baru sekali ini nonton The Peanuts Gang. Film ini berhasil meyakinkan gue kalo Peanuts emang beneran sukses di masa lalunya. Gue langsung kangen sama masa-masa kecil waktu nonton film ini. Ceritanya realistis dan kehidupan sehari-hari banget yang mewakili pengalaman hampir semua orang. Cuman nama tokoh Little Red Haired Girl itu agak ribet ya. Gue sampe belepotan sendiri waktu ngucapin nama ini anak.

Film ini mengalir dengan ringan dan berhasil bikin gue duduk anteng sampe filmnya selesai. Humornya ringan, tapi kadarnya cukup sebagai pemanis. Film ini paling pas ditonton sama anak-anak karena ceritanya yang ringan dan super relatable. Gue juga suka sama penggambaran karakter Charlie yang tampil natural tanpa harus ‘memaksa’ penonton buat simpati sama sosok dia. Recommended. Score 8/10.
.  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar