Rabu, 10 Februari 2016

Review Film The Forest (2016) : Menyingkap Misteri Hutan Aokigahara

Tahun 2016 kembali menghadirkan sederet film horror nih, dibuka dengan film The Forest yang berlatarkan hutan angker yang menjadi tempat bunuh diri favorit di Jepang, yaitu hutan Aokigahara. Gue masih gak paham kenapa bunuh diri pun sampe ada tempat favoritnya, semacam gak kalah eksis dibanding kafe yang lagi hits di Path.


The Forest mengangkat kisah dari hutan angker yang populer banget di Jepang. Banyak ditemukan mayat-mayat yang mati karena bunuh diri di hutan itu. Sudah bisa dipastikan banyak roh gentayangan di sana yang siap meneror siapapun yang berani masuk ke hutan itu. Terdengar menarik ya, horror Amerika mengambil tempat di Jepang yang dikenal sebagai produsen film horror yang seremnya gak tedeng aling-aling. Apakah The Forest berhasil menyajikan keseraman yang setara dengan film horror Jepang?


Sinopsis. Sara Price (Natalie Dormer) lagi kelimpungan banget karena adik kembarnya, Jess Price (Natalie Dormer) yang sedang berada di Jepang tiba-tiba hilang secara misterius. Jess terakhir kali diketahui sedang berada di hutan Aokigahara dekat Gunung Fuji, sebuah tempat yang ngehits banget sebagai lokasi bunuh diri nomor satu di Jepang. Ada juga mitos yang beredar bahwa orang-orang yang pergi ke sana akan berakhir dengan bunuh diri karena roh-roh gelap yang jadi penunggu di hutan tersebut.


Sara memutuskan untuk menyusul Jess dan mengajaknya pulang kembali ke Amerika. Sara kemudian bertemu dengan reporter bernama Aiden (Taylor Kinney) dan dibantu oleh seorang pemandu bernama Michi (Yukiyoshi Ozawa). Mereka masuk ke dalam hutan untuk menemukan Jess. Mereka sudah mendengar mitos tentang hutan yang semakin menakutkan di kala malam, tapi Sara tetap kekeuh untuk menginap di hutan itu agar bisa segera menemukan Jess. Namun terror demi terror pun siap menghadang Sara dan kawan-kawan. Berhasilkah Sara menemukan Jess?


The Forest punya pembangunan cerita yang bagus. Karakter ketiga tokohnya langsung get in dengan penonton di awal-awal cerita. Pembangunan atmosfir seramnya juga cukup bikin gue merinding begitu mereka mulai masuk ke hutan itu. Penampakan mayat-mayat tergantung di pohon itu cukup bikin gue mual, Di awal-awal gue udah cukup excited sambil siap-siap tau aja ada penampakan hantu yang tiba-tiba nongol tanpa ngucapin salam.


 Film ini terlalu sibuk nakut-nakutin penontonnya tapi ceritanya sendiri malah amburadul gak karuan. Penonton terlalu diarahkan buat menebak-nebak apa yang bakal terjadi selanjutnya dengan kejutan berupa penampakan-penampakan yang kalo gue bilang slonongboy banget *apa banget bahasanya*. Sayang banget padahal film ini udah punya tiga karakter yang kuat, khususnya Sara. Fokus cerita untuk mencari keberadaan Jess terkesan buyar karena para hantu yang  ‘maksa’ minta perhatian dengan terlalu banyak nongol di sana-sini.



Tapi dibalik narasinya yang lemah, film ini unggul di penyajian sinematografinya yang haluuus banget. Gue suka sama penggambaran hutan Aokigahara yang dibikin misterius dari awal cerita. Tapi sayangnya rasa penasaran penonton yang susah payah dibangun dari awal itu harus buyar di tengah-tengah film. Endingnya juga gak begitu spesial. Mungkin ini yang dinamakan pedekate selalu lebih indah dibandingkan masa-masa setelah jadian. Score 7/10.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar