Minggu, 31 Januari 2016

Review Film Korea Socialphobia / 소셜포비아 (2015) : Ketika Gadget Lebih Tajam Dari Pedang

Kalo jaman dulu ada pribahasa ‘Mulutmu Harimaumu’, di era digital sekarang ini mungkin ‘Gadgetmu Harimaumu’ kayaknya lebih tepat ya. Kenapa? Karena di era serba socmed kayak sekarang, hanya dengan menggerakkan jari kita bisa bebas memposting apapun pendapat kita di internet, bahkan makian dan kata-kata kasar. Gak sedikit orang yang lupa kalau apapun tulisan mereka bisa dengan bebas juga dilihat oleh orang lain, lalu jadi boomerang buat sang penulis status. Mungkin itulah pesan yang ingin disampaikan oleh ‘Socialphobia’.


Film ini mengangkat isu yang lagi heiiiiittz banget seputar masyarakat yang kecanduan gadget dan internet. Semua orang bebas melakukan apapun dengan akun socmed mereka dan bikin hal yang sebenernya gak penting jadi penting. Bahkan sebuah isu kecil pun bisa bikin nyawa seseorang melayang, hanya karena tulisan di social media. Masih inget kasus yang sempet heboh banget di Path tentang cewek yang ngata-ngatain ibu hamil? *gue lupa namanya* Tuh orang sekarang apa kabar ya?


Sinopsis. Ji Woong (Byun Yo Han) dan Young Min (Lee Joo Sung), adalah siswa sekolah polisi yang hobi banget main twitter dan gak bisa lepas dari gadget mereka. Mereka selalu eksis nanggepin isu apapun yang lagi happening di internet. Suatu hari, bergulir trending topic tentang seorang tentara yang bunuh diri. Forum internet pun ramai dengan komentar tentang kasus itu, mulai dari tanggapan simpati sampe tanggapan sinis. Salah satu akun dengan username @infernosister, tiba-tiba jadi target bullying netizen karena tweet-nya yang dianggap kelewatan tentang kasus itu. Akun ini gak tanggung-tanggung ngeledekin sang tentara yang udah jadi almarhum itu dengan menyuruhnya pergi ke neraka.


Ji Woong, Young Min dan teman-temannya yang tergabung dalam forum Mr. Babble pun gak mau ketinggalan. Mereka rame-rame ngeroyokin akun @infernosister dengan tweet bernada ejekan sampe ancaman. Terungkaplah bahwa akun itu adalah milik seorang cewek bernama Min Ha Young. Min bahkan nantangin forum Mr. Babble buat ngedatengin dia di apartemennya. 

Jadilah Ji Woong dkk ngedatengin tempat Min. Mereka bahkan menyiarkannya secara live streaming lewat sebuah forum video dengan penonton hampir 10.000 orang. Sialnya, di tengah siaran langsung ‘eksklusif’ itu, mereka justru mendapat ‘kejutan’ yang gak terduga dari Min. Min ditemukan udah mati tergantung di apartemennya. Kontan siaran langsung itupun berubah jadi petir di siang bolong buat Ji Woong dan teman-temannya.



Kasus ini langsung meledak dan jadi trending topic di internet. Semua orang yang terlibat di kejadian itu pun jadi sasaran kemarahan netizen, termasuk Ji Woong dan Young Min. Mereka dituding jadi penyebab bunuh dirinya Min Ha Young. Ji Woong dan Young Min bahkan terancam gagal jadi polisi karena ulah iseng mereka yang berbuah petaka itu.

Tapi mereka merasa ada sesuatu yang aneh dengan kematian Min. Mereka berpikir kalo Min sebenernya gak gantung diri, melainkan dibunuh. Terlebih melihat rekam jejak Min selama ini, banyak orang membenci Min yang dikenal sebagai ‘Pendekar Keyboard’ yang selalu kritis terhadap semua isu yang lagi hangat di internet. Petualangan forum Mr. Babble untuk mengungkap kebenaran pun dimulai. Apa yang bakal terjadi selanjutnya?


Review. Film ini mengangkat isu yang lagi kekinian banget soal kecanduan gadget dan cyber bullying. Digambarkan tiap orang gak bisa lepas dari gadgetnya dan terus tenggelam di dunia maya, mau gak mau kita harus mengamini itu. Banyak orang yang tampil garang bak singa kelaperan di internet, tapi di dunia nyata aslinya bagaikan tikus kecemplung oli, lengket dan gak berdaya :p Semua itu ditampilkan secara real di ‘Socialphobia’.


Film ini punya plot yang bisa dibilang ngebut banget. Semuanya tampil dengan spontan uhuy dan lumayan bikin gue geleng-geleng kepala di sepanjang film. Perjuangan menunggu subtitle pun lumayan bikin geleng-geleng juga :p Tapi di tengah film gue agak sedikit dibikin boring dengan konfliknya yang dibikin ruwet. Alurnya terlalu berusaha buat menggiring penonton menebak-nebak apa yang bakal terjadi kemudian, dengan pendalaman karakter yang pas-pasan. Gue sama sekali gak ngerasa kasihan dengan Min Ha Young yang mati konyol karena kata-katanya sendiri, juga dengan Ji Woong dan Young Min yang terjebak adengan situasi yang bisa dibilang gak main-main. Masih agak nanggung kalo mau dibilang sebagai film thriller atau misteri.


Satu pesan yang gue dapet dari film ini adalah ‘Thinking Before Posting’, karena ‘Gadgetmu adalah Harimaumu’, miaw. Oh ya, Byun Yo Han leh uga ya, ganteng miaw :p Ada yang udah nonton? Gimana menurutmu? Score 7/10.

Sabtu, 30 Januari 2016

Penyanyi Kurang Terkenal yang Sering Mengisi Soundtrack Drama Korea

Menonton drama rasanya pasti kurang lengkap ya tanpa adanya soundtrack yang mengisi tiap adegan. Apalagi saat adegan sedih yang mengharu biru, ditambah iringan lagu ballad pastinya kesedihan yang ditimbulkan bakal makin menjadi-jadi. Gak jarang juga sebuah lagu soundtrack jadi sangat populer, bahkan melebihi penyanyinya sendiri. Siapa aja sih para penyanyi yang rajin mengisi soundtrack drama tapi namanya sendiri justru kurang dikenal? Berikut ulasannya.

Howl

Penyanyi yang memiliki nama asli Kim Dong Wook ini lahir pada 30 Juli 1979. Howl sering mengisi soundtrack drama dengan lagu-lagu ballad yang mengharu biru. Mulai dari Princess Hours, A Love To Kill, sampai Boys Before Flowers. Suaranya yang lembut pas banget dan semakin mendukung setiap adegan mulai dari saat sedih sampai romantis. Tapi namanya sendiri bisa dibilang kurang terkenal. Sedikit banget info yang bisa gue dapet tentang dia di internet huhu.

Ali


Ali memulai debutnya pada tahun 2009 lewat ajang Immortal Songs 2. Ali memiliki nama asli Cho Yong Jin. Selain menyanyi, Ali juga aktif menulis lagu untuk beberapa penyanyi. Ali memiliki karakter vokal yang powerful dan penuh penjiwaan di setiap lagunya yang juga sering dijadikan soundtrack drama. Salah satunya yang terbaru berjudul I’m Sorry yang menjadi soundtrack di drama Angry Mom.

Jung Dong Ha


Mantan vokalis band-rock, Boohwal ini memutuskan untuk berkarir solo setelah 8 tahun kontraknya dengan Boohwal Entertainment. Ia juga merupakan anggota termuda sekaligus terlama dalam band tersebut. Lagu-lagu nya yang dijadikan soundtrack drama juga tak kalah banyak. Ia mulai menyanyikan lagu soundtrack sejak tahun 2006 dalam drama Wolf. Beberapa lagu soundtrack miliknya antara lain; Mystery (Master’s Sun), Look At You (I Miss You), You’re Like Fate (Fated To Love You).

Ben


Lagu-lagu Ben mungkin belum sebanyak sang ratu soundtrack, Baek Ji Young. Tapi kiprah Ben sebagai pengisi soundtrack drama juga patut diacungi jempol. Ben lahir pada 30 Juli 1991 dengan nama asli Lee Eun Young. Suaranya yang lembut dan mampu mencapai nada-nada tinggi pastinya jadi nilai tambah buat Ben. Ben pernah mengisi soundtrack di drama populer The Heirs, Healer dan Producers. Salah satu yang terbaru berjudul ‘Stay’ yang jadi soundtrack di drama ‘Oh My Ghostess’.

Lyn


Mungkin nama Lyn bisa dibilang cukup familiar buat kamu yang suka nonton drama Korea. Penggemar drama Full House pastinya gak asing lagi dengan Lyn atau Lee Se Jin. Penyanyi bersuara khas ini mengisi soundtrack yang berjudul ‘Geu Deh Ji Geum’ yang selalu mengiringi adegan saat Ji Eun dan Young Jae lagi saling kangen. Salah satu soundtrack paling terkenal yang dinyanyikan Lyn adalah ‘You Are My Destiny’ dari drama ‘You Who Come From The Star’. Lagu ini bahkan memenangkan kategori Best Original Soundtrack di ajang 50th Baeksang Awards  tahun 2014. Lyn juga pernah mengisi soundtrack di drama fenomenal yang juga dibintangi Kim Soo Hyun, ‘Moon Embracing The Sun’.

Navi


Satu lagi penyanyi soundtrack drama Korea yang mungkin masih asing buat kamu, namanya Navi. Pemilik nama asli Ahn Ji Ho ini mulai menggebrak ranah per-soundtrack-an saat menyanyikan lagu untuk drama ’49 Days’. Sejak itu Navi mulai sering dipercaya menjadi pengisi soundtrack drama, sebut saja drama ‘Poseidon’ dan ‘Secret’.

Nah sekian daftar penyanyi soundtrack yang mungkin belum kamu kenal. Mungkin kamu pernah atau sering mendengar lagu mereka tapi gak tau siapa sih nama penyanyinya. Ada yang mau nambahin? Thanks for reading and have a nice day!

Review Drama Korea The Village Achiara’s Secret : Perjalanan Mengurai Benang Kusut yang Menyebalkan

Annyeong chingu, ada yang udah nonton The Village Achiara’s Secret belum? Drama yang menggantikan jadwal tayang Yong Pal ini digadang-gadang bakal tampil dengan ide cerita yang benar-benar baru dan pastinya bikin penonton penasaran. Kalo gue sih nonton karena pengen liat berondong gue, Yook Sung Jae :p Di sini peran Sung Jae bener-bener beda dari drama sebelumnya, yaitu School 2015. Kalo sebelumnya Sung Jae tampil loveable sebagai murid SMA badung yang ternyata kesepian, di drama ini Sung Jae menjelma jadi Polisi junior yang sering dapet tugas-tugas kecil dari sunbae-nya.


Sung Jae dipasangkan dengan Moon Geun Young, si cantik dari drama Somsangdong Alice. Tapi gue agak kurang sreg nih kalo Sung Jae dipasangin sama Geun Young yang lebih cocok jadi nuna-nya. Gue sendiri belum tau apakah mereka nantinya bakal dipasangin atau nggak, karena ceritanya lebih ke arah misteri, dan sejauh ini gue tonton belum ada tanda-tanda bakal ada loveline di antara mereka. Mudah-mudahan sih nggak ya :p


Sinopsis.  Han So Yoon (Moon Geun Young), tinggal di Kanada berdua saja dengan neneknya setelah ia mengalami kecelakaan tragis yang membuat kedua orang tua dan kakaknya meninggal. Suatu hari So Yoon harus menerima nasib hidup sebatang kara setelah neneknya meninggal secara misterius dengan jatuh dari gedung bertingkat, entah karena kecelakaan atau bunuh diri. Setelah neneknya meninggal, So Yoon menemukan surat di rumahnya dengan nama ‘Achiara’. Bagaikan pesan rahasia, So Yoon terus menerus menerima pesan seperti isyarat untuk mencari Achiara, yang ternyata adalah sebuah nama desa kecil di Korea.


So Yoon pun memutuskan untuk kembali ke Korea dan mencari Achiara. So Yoon merasa ada sesuatu dengan tempat bernama Achiara yang berhubungan dengan masa lalunya. So Yoon kemudian mendapat pekerjaan sebagai guru Bahasa Inggris di SMP Achiara. So Yoon tinggal di sebuah kamar sewaan yang belakangan di ketahui penghuni sebelumnya menghilang secara misterius dan belum ditemukan.


Di hari pertamanya mengajar, So Yoon secara gak sengaja menemukan mayat perempuan di hutan tepi danau. Mayat itu udah berubah jadi kerangka, dan dipekirakan udah terkubur di sana kurang lebih dua tahunan. Setelah kejadian itu, satu per satu misteri yang tersembunyi di desa itu pun terungkap. Banyak tokoh misterius bermunculan yang bikin  ceritanya makin rumit dan berkaitan satu sama lain. Belakangan terungkap kalo mayat itu adalah kakaknya yang selama ini dia cari. Bersama Park Woo Jae (Yook Sung Jae), polisi muda yang punya intuisi tajam bak detektif Conan, So Yoon pun berusaha mengungkap rahasia yang selama ini terpendam. Berhasilkah So Yoon?


Review. Drama ini berusaha mengangkat banyak isu dalam satu paket, mulai dari misteri, pembunuhan, perselingkuhan yang absurd antara ayah dan anak tiri, pemerkosaan, hubungan incest, sampe penyakit langka. Agak tricky emang, menyatukan banyak konflik dalam satu alur cerita. Salah-salah bukan bikin penasaran, malah bikin capek nontonnya. Itulah yang gue rasain selama nonton drama ini.


Terlalu banyak tokoh yang ‘dipaksa’ punya andil di drama ini. Mungkin maksudnya biar makin misterius dan makin greget, tapi jatuhnya malah ngeselin. Tokoh Yoo Na misalnya, anak kecil yang suka membangkang sama orang tua dan sotoy nya kebangetan. Juga tokoh Ga Young yang ternyata naksir sama saudaranya sendiri, cuma bikin masalah tambah ruwet.



Justru tokoh Woo Jae lah yang harusnya berperan besar. Woo Jae digambarkan cuma bisa mengungkapkan spekulasinya tentang kasus ini, yang bahkan sama sunbae-nya pun dianggap cuma imajinasi tingkat tingginya aja. Sayang banget Sung Jae di sini kayak yang kesilep gitu karakternya, karena terlalu banyak tokoh-tokoh lain yang ‘maksa’ buat dapet perhatian penonton. Dan juga kalo gue bilang, baju-bajunya So Yoon sebagai guru itu agak kurang pantes ya. Masa Ibu Guru pake celana jeans sobek-sobek, celana pendek, sepatu boots? Mau ngedate iya kali :p


Sebenernya usaha SBS buat mengangkat drama to another level ini harus diapresiasi, karena gak banyak drama yang berani tampil anti-mainstream, walaupun sekarang udah cukup banyak sih drama yang punya jualan utama misteri kayak gini. Gimik nakut-nakutin dengan sound effect dan bayangan lari-lari di kegelapan itu kadang malah bkin gue pengen ketawa sendiri. Entahlah, drama ini gagal menghibur gue, yang ada malah bikin keki. Gue bertahan cuma karena ada Sung Jae di sana. Mudah-mudahan endingnya gak mengecewakan. Score 7/10.

MV REVIEW : ZICO feat f(x) Luna - It Was Love (사랑이었다)

Pertama-tama, gue mau ngucapin selamat buat siapapun yang ngasih judul Zico feat Luna buat video ini, karena udah sukses nge-troll semua viewers yang udah pasti mikir kalo lagu ini dinyanyiin sama Zico dan Luna. Gue mantengin lagu ini dari awal sampe akhir dan gak ada suara Zico di situ. Usut punya usut, Zico hanya menulis dan memproduseri lagu ini buat Luna. What the heol Zico, makasih loh udah ngerjain gue!


 Oke, mungkin bukan cuma gue yang kena jebak sama video ini. Gue gak jadi ngambek karena ternyata lagunya bagus banget, ditambah suara Luna yang jernih sejernih mata air pegunungan. Sayang banget Luna gak mampang di MV ini. Sebagai gantinya, ada Mariko Shinoda, eks member AKB48 yang tampil ultra galau di sepanjang MV. Somehow MV ini agak mengingatkan sama MV nya Ailee 'Heaven' ya chingu. Yuk ah lanjut aja ke review nya!

Concept


MV ini menceritakan seorang cewek yang lagi galau berat saat mengenang pacarnya, yang mungkin udah putus atau udah nyebur ke laut/? Mariko digambarkan lagi beres-beres rumah, sepertinya mau pindahan.


Tiba-tiba dia terkenang momen waktu baru pindah ke rumah itu sama pacarnya, terus mereka ngelakuin banyak hal berdua. Yang bikin Mariko sedih, sekarang dia cuma bisa ngelakuin semuanya sendiri, sampe waktu sikat gigi pun yang terbayang hanyalah dirimu seorang :( 
Sinematografinya aluuuus banget, Japanese film banget deh, mirip-mirip film The Liar and His Lover. Efek sun flare sama pantulan sinar yang dibikin kontras dan silau banget hampir di sepanjang MV itu agak annoying kalo gue bilang. 

silau neng?
tuh kan silaaaau
silau mennnnn :(
di dalem rumah aja silau :(
awas gordennya copot neng :p 
Costume


Mariko pake baju ala gadis-gadis galau di video klip banget. Sweater dan kardigan longgar dengan warna pastel dan hotpants. Cantik sih. Udah gitu aja.

Song

tuh kan silau lagi :( ganti judul aja jadi 'Pesona Silaumu'
Lagunya enak dan lumayan bikin baper, padahal gue sama sekali gak ngerti sama isi lagunya. Luna juga berhasil mencapai nada-nada tinggi dengan muluuuus banget. Hello SM, kenapa gak bikinin album juga buat Luna? Gue jamin laku kok, suaranya bagus.

Ini tipikal lagu yang bakal cocok dijadiin soundtrack drama yang bikin termehek-mehek. Salut buat Zico yang udah bikin lagu ini buat Luna. Cocok sama vokal Luna yang lembut, selembut kasih ibu. Kayak di iklan ya :p

Lyrics


Liriknya emang galau abis ya chingu, nyeritain tentang rasa kehilangan karena gak bisa memiliki seseorang. Saking galaunya sampe rasanya mau gila :p Ah sudahlah.Lirik ini jangan kamu praktekkan di rumah ya :p

"When will you call my name
If I pluck you will your scent be mine
You talk of loneliness
Yet you pushed me away when I tried to embrace you
I feel tortured because I don’t even have a reason to feel resigned
After time passes it’s nothing
I thought I was briefly crazy
It was love it was love
Now that we’re here, I realize I loved her
Words and behavior unlike me
Heart that has a mind of its own
It was love it was love"


Sekian review dari gue. Kalo gue bilang sih lagu ini gak lebih dari another ballad song yang layak kamu masukin ke playlist ketika galau. Satu yang paling outstanding adalah suaranya Luna yang baguuuus banget. Sekali lagi gue mau bilang ke SM, please give her an album! Score 7/10.

Jumat, 29 Januari 2016

Review Film Korea C’est Si Bon (2015) : Antara Mimpi, Cinta dan Persahabatan

Pernah punya dilema antara harus memilih orang yang kita sayang, sahabat, dan mimpi yang ingin kita capai? Itulah jalan cerita dari film C’est Si Bon. Film produksi CJ Entertainment ini berlatar waktu tahun 60-an, ketika musik rakyat masih digemari, jauh sebelum para oppa dalam formasi boyband eksis kayak sekarang


 Waktu itu penyanyi cowok dengan karakter vokal yang unik dan jago main gitar udah pasti jadi idola di kalangan cewek-cewek. Acara TV waktu itu belum banyak yang nayangin acara musik—kayak Music Bank kalo jaman sekarang—makanya tempat-tempat kayak klub atau music hall jadi tempat yang paling gaul dan hits di jaman itu. Diceritakan ada sebuah klub musik yang suka menampilkan penyanyi pendatang baru dan lumayan populer di Seoul, yaitu klub C’est Si Bon. Di sanalah semua tokoh dalam film ini bertemu. Gimana alur ceritanya?



Sinopsis. Oh Geun Tae (Jung Woo), adalah seorang mahasiswa  berusia 20-an yang berasal dari keluarga nelayan, tiba-tiba harus bergabung dengan dua orang penyanyi berbakat untuk kemudian diorbitkan sebagai trio. Bakat Geun Tae ditemukan oleh Lee Jang Hee (Jang Hyun Suk), seorang produser dari klub music C’est Si Bon. Karakter vokal Geun Tae dianggap mampu melengkapi dua penyanyi yang sudah populer sebelumnya, Yoon Hyeong Joo (Kang Ha Neul) dan Song Chang Sik (Jo Bok Rae). Melihat potensi dari tiga orang penyanyi ini, Jang Hee bersama Direktur Kim, sang pemilik klub, sepakat buat ngorbitin mereka sebagai trio bernama C’est Si Bon.


Awalnya gak gampang buat menyatukan tiga kepala ini dalam satu grup. Mereka saling panggil dengan sebutan brengs*k, songong, dusun, dan macam-macam panggilan sayang lainnya.  Mereka bertiga gak pernah akur, terlebih Hyeong Joo dan Chang Sik yang sama-sama ngerasa paling berbakat dalam grup itu. Geun Tae yang punya skill pas-pasan dalam bermusik pun ngerasa minder, tapi sang produser, Jang Hee, berusaha buat ngajarin Geun Tae dari nol biar bisa ngimbangin Hyeong Joo dan Chang Sik yang udah pada jago main musik. Pelan-pelan Geun Tae pun mulai bisa berbaur, dan mereka bertiga juga udah bisa akur dan kompak dalam satu grup.



Konflik mulai muncul dengan hadirnya sosok wanita cantik bernama Min Ja Young (Han Hyo Joo). Ja Young adalah anggota grup teater yang juga suka manggung di klub C’est Si Bon. Udah bisa ditebak dong, Geun Tae, Hyeong Joo dan Chang Sik pun langsung naksir sama Ja Young. Mereka pun bersaing buat bisa dapetin Ja Young.  Melihat kepolosan dan ketulusan Geun Tae, Ja Young pun akhirnya memilih Geun Tae. Mereka pun mulai sering berduaan dalam segala hal, walaupun Ja Young sendiri gak pernah ngasih kepastian buat hubungan mereka.



Ja Young punya mimpi bisa jadi aktris terkenal, dia sering ikut main di teater besar walaupun cuma dapet peran-peran kecil. Geun Tae pun mendukung impian Ja Young. Apapun bakal dia lakukan buat bisa bikin Ja Young bahagia. Sampe suatu hari, ketika C’est Si Bon baru aja mau debut sebagai grup komersil, Geun Tae tiba-tiba aja mundur dari grup dikarenakan Ja Young. Gak punya pilihan lain, Hyeong Joo dan Chang Sik pun merubah nama mereka menjadi 'Twin Folio'. 

Tanpa terduga ternyata Twin Folio pun sukses hanya dalam jangka waktu satu tahun pasca debut. Tapi kejayaan mereka ternyata gak berlangsung lama. Tiba-tiba mereka dibubarkan karena isu narkoba. C’est Si Bon dan Twin Folio pun sekarang cuma tinggal kenangan. 40 tahun kemudian terungkap, ternyata Ja Young juga lah yang jadi dalang dibalik bubarnya Twin Folio. Apa sih yang udah dilakuin Ja Young? Sehebat apa sih cewek ini sampe bisa bikin satu grup yang lagi populer tiba-tiba bubar?



Review. Awalnya gue agak dibikin boring di menit-menit awal film ini. Gue belum mudeng dengan tren music hall di tahun 60-an yang diangkat di film ini. Tapi gue masih dibikin penasaran dengan tokoh-tokohnya. Pembangunan karakter di film ini bisa dibilang ngebut tapi pas. Penonton bakal langsung get in dengan karakter tiap tokohnya. Hyeong Joo, si cowok flamboyan yang rada songong karena ngerasa paling populer di C’est Si Bon yang juga seorang mahasiswa kedokteran. Ada juga Chang Sik, si dekil yang awut-awutan tapi ternyata punya suara yang bagus, dan Geun Tae, mahasiswa biasa yang juga punya suara biasa aja tapi punya pesona tersendiri dengan kepolosan dan ketulusan hatinya.



Kehadiran Ja Young sebagai bahan rebutan di antara tiga cowok gak begitu menonjol, karena semuanya selesai waktu Geun Tae berhasil dapetin Ja Young. Klimaksnya juga gak begitu epic, dilihat dari latar waktu 60-an dengan segala keunikannya itu, gue berharap C’est Si Bon bisa ngasih sesuatu yang wow di akhir ceritanya. Bahkan wajah Hyeong Joo dan Chang Sik sama sekali gak ditampilin di akhir cerita, mungkin maksudnya biar misterius dikit kali ya. Alurnya juga agak bikin bingung, kenapa tiba-tiba Twin Folio bisa ditahan sama polisi gara-gara ganja, dan kenapa Geun Tae bisa ‘bersaksi’ tentang teman-temannya yang suka nyimeng. Semuanya jadi ‘menumpuk’ di akhir film. Mungkin maksudnya mau dibikin semacam twist, padahal kalo gue bilang, penonton udah bisa nebak kok tanpa harus dibikin twist.



Justru setting 60-an nya lah yang bikin film ini jadi menarik, mulai dari lagu-lagunya, fashion, sampe peraturan pemerintah tentang jam malam dan larangan pake rok mini. Geun Tae bahkan rela pake rok mini di jalanan buat nyelametin Ja Young dari razia Satpol PP :p Sosok Geun Tae yang ternyata jadi pengkhianat teman-temannya juga gak berhasil bikin gue simpati sama dia sebagai tokoh utama. Gue malah terkesan sama tokoh Hyeong Joo yang dengan caranya bisa tetep nerusin passion-nya menyanyi, padahal ayahnya lebih ngedukung dia buat jadi dokter. hyeong Joo juga bisa meredam egonya waktu produser minta dia buat gabung dalam satu grup trio. Ja Young cantik banget ya, semua baju yang dia pake gue jadi pengen punya juga :p


Kebanyakan spoiler gak nih? Udah deh nonton aja. Buat kamu yang suka sama film Sunny gue rekomendasiin film ini, dengan catatan jangan terlalu berharap banyak film ini bisa nyamain charm-nya Sunny. Cukup menghibur, sayang banget eksekusinya agak ngegantung. Score 7/10.

Yuk Kenalan Dengan Pemeran Princess Hours Versi Thailand!

Thailand sepertinya lagi keranjingan me-remake drama Korea yang udah duluan sukses di pasaran ya chingu. Setelah sukses dengan remake 'Playful Kiss' dengan judul Thailand-nya 'Kiss Me', Halo Entertainment kembali hadir dengan kabar akan dirilisnya 'Princess Hours' versi Thailand. Kabar itu sendiri dirilis lewat akun Instagram Halo Entertainment di sini. Dan it's so sad gue gak ngerti tulisan Thailand yang keriting semua itu, jadi gue gak ngerti juga mereka ngomong apaan T_T


Feels so nostalgic banget ya, it's been a decade sejak 'Princess Hours' dirilis tahun 2006 lalu. Cukup susah buat gue untuk move on dari drama ini, dan tiba-tiba setelah 10 tahun berlalu gue pun kembali dibuat baper dengan kabar dirilisnya Princess Hours versi Thailand. Mau nonton dimana coba entar T_T

Oke kita lanjutkan. Princess Hours menceritakan seorang gadis dari rakyat biasa bernama Shin Chae Kyeong, yang harus menikah dengan putra mahkota, Lee Shin, karena suatu perjanjian dari sang kakek di masa lalu. Versi aslinya diperankan oleh Yoon Eun Hye dan Joo Ji Hoon. Drama ini terbilang sukses gak cuma di Korea, tapi juga beberapa negara di Asia termasuk Indonesia. Dan drama ini pun masih sukses mengaduk-ngaduk hati gue sampe sekarang, dan terus-terusan baper tiap kali gue nonton ulang ataupun dengerin lagu-lagu soundtracknya. Time flies so fast ya chingu, sekarang gue udah lulus kuliah aja dan Joo Ji Hoon juga udah jadi ahjussi. Secara gue nonton drama ini waktu jaman SMP :p



Gue masih belum tau gimana alur cerita versi Thailand nya, apakah benar-benar remake total atau ada perubahan alur. Yang jelas gue excited banget, dan pemeran versi Thailand nya juga kece-kece. But i have no idea about pemeran Shin. Shin itu orangnya dingin dan songongnya gak ketulungan, tapi pemeran versi Thailandnya agak kurang cocok kalo gue bilang. Ganteng sih,tapi kurang pas gitu. Mungkin harus dimasukin freezer dulu biar bisa nyamain dinginnya Lee Shin versi asli :p

Penasaran siapa saja pemain Princess Hours versi Thailand? Berikut penampakannya.


Tao Sattaphong sebagai Lee Shin


Pattie Ungsumalynn sebagai Shin Chae Kyeong


Bebe Tanchanok sebagai Min Hyo Rin


Phan Pagniez sebagai Lee Yeol

Tao sebelumnya udah pernah main di drama Kiss Me yang juga diproduksi oleh Halo Entertartainment. Sedangkan Pattie udah sering wara wiri di serial Thailand yang juga populer di Indonesia, sebut aja Hormones, Seven Somethind dan Bangkok Love Story. Kalo soal Bebe gue belum tau banyak, tapi kalo Phan Pagniez gue pernah liat dia di Gossip Girl *cmiiw*

Berikut teaser pic Princess Hours versi Thailand.






Gue masih belum tau kapan jadwal tayang drama ini. Yang jelas gue excited dan pngen nonton. Apakah bisa mengalahkan atau minimal menyamai kesuksesan versi aslinya? Me-remake drama yang sukses dan populer emang agak tricky yaa chingu, tapi kalo bisa lebih sukses pasti jadi prestasi tersendiri buat produsernya. Gimana menurutmu?