Kamis, 10 Desember 2015

Review Film Badoet (2015) : Horror Rasa Original, Tanpa Cabe

Apa yang kamu pikirkan ketika ditanyakan tentang film horror Indonesia? Hantu-hantunya yang seksi? Ajaib? Aneh? Gak jelas? Mulai sekarang ilangin deh persepsi-persepsi itu, karena sekarang film horror Indonesia udah balik lagi ke rasa original tanpa bumbu cabe-cabean yang pedes gak karuan. Gue mengamini itu setelah nonton film garapan Awi Suryadi berjudul Badoet.



Badoet ber-setting di lingkungan rumah susun yang padat penduduk. Lingkungan di rumah susun itu berjalan aman dan nyaman seperti lingkungan perumahan pada umumnya. Sampai suatu hari seorang anak kecil menemukan sebuah kotak musik di pasar malam dekat rumah susun itu. Kejadian aneh pun mulai muncul, satu persatu anak kecil di sana meninggal secara mengenaskan dan gak terduga. Kejadian ini membuat Donald (Daniel Topan) penasaran. Donald adalah seorang mahasiswa semester akhir yang kebetulan juga mengenali anak-anak di lingkungan rumah susun itu.


Sinopsis. Donald tinggal dengan sepupunya Farel (Christoffer Nelwan). Kejadian aneh ini secara gak langsung juga mengusik kehidupan mereka. Bersama dengan Kayla (Aurelie Moeremans), mereka mencoba mencari tahu apa yang terjadi dengan fenomena itu, merujuk pada kotak musik yang ditemukan anak pertama. Mereka pun menemui tiga anak kecil yang entah kebetulan atau nggak, mereka menggambar sosok badut dengan wajah yang sama sebelum mereka meninggal.
Sekilas gue jadi keinget film jaman dulu Di Sini Ada Setan, ceritanya tuh gak asing dan pasaran banget. Tapi uniknya,penyajian film ini lumayan bikin gue merinding dengan atmosfer creepy yang dapet banget dari editing, pengambilan gambar, dan efek suara yang bikin kaget. Penampakannya emang gak banyak, tapi dijamin bikin bulu ketek merinding deh. Suara kotak musiknya juga serem, serasa muter-muter di kepala gitu. Kayak lagunya Tip Toe Though The Tulips di Insidious.



Plot nya sederhana, dialognya juga gak terlalu dibuat-buat. Cuma beberapa karakter gak begitu penting buat gue dan cuma menuh-menuhin cerita aja. Tapi tetep, dibanding film-film horror yang hobi keramas atau mandi kembang mah, film ini jauh lebih baik dan lebih sopan pastinya. Durasinya juga gak kepanjangan, 90 menit aja tapi gue puas nontonnya.


Film ini patut diacungi jempol, karena gak butuh trik murahan semacam pemain yang seksi dan hantu yang hobi mandi, such a nice try buat ngangkat citra film horror Indonesia yang terlanjur buruk dengan hantu-hantu ajaib beberapa tahun belakangan. Score 8/10.


1 komentar: