Kamis, 31 Desember 2015

Review Film Crimson Peak (2015) : Beautifully Shooted Horror Movie

Crimson Peak adalah salah satu film horror paling outstanding yang gue tonton di tahun 2015 selain Goodnight Mommy. Ceritanya memang masih lagu lama, mengenai hantu yang gentayangan di sebuah rumah, tapi latar era zaman gothic dengan view bangunan dan nuansa serba vintage yang serba gelap cukup jadi bonus yang memanjakan mata di sepanjang durasi film.


Sang sutradara, Guillermo Del Toro sendiri mengklaim kalo Crimson Peak bukanlah sebuah film horror melainkan gothic romance, walaupun filmnya sendiri diwarnai oleh para hantu yang wara wiri di sepanjang cerita. Gimana sih ceritanya?



Film ini dimulai dengan seorang gadis bernama Edith Cushing (Sofia Wells) yang percaya akan adanya hantu. Edith sendiri pertama kali melihat hantu di usia sepuluh tahun. Edith melihat hantu yang berwujud seperti sang mama yang meninggal karena terkena wabah kolera. Hantu itu terus saja datang sampai Edith dewasa (diperankan oleh Mia Wasikowska). Edith pun ketakutan sampe suatu hari si hantu membisikkan sebuah pesan, “Waspadalah pada Crimson Peak.”

Karena akrab dengan penampakan hantu, Edith pun menuliskannya dalam sebuah cerita novel. Edith punya impian suatu hari novelnya dapat diterbitkan dan dibaca oleh banyak orang. Tapi, pada zaman itu keberadaan wanita sendiri masih dimarjinalkan dan novel dengan tema hantu dianggap kurang menarik sama pihak penerbit. Tapi Edith sih gak begitu amil pusing karena masih bisa bergantung pada sang ayah, Carter Cushing (Jim Beaver) yang merupakan seorang pengusaha kaya yang disegani.

Suatu hari Carter kedatangan tamu dua orang kakak beradik yang menawarkan proposal usaha tambang tanah liat, yaitu Thomas Sharpe (Tom Hiddleston) dan Lady Lucille Sharpe (Jessica Chastain).  Carter dari awal udah curiga nih sama kakak beradik ini, terlebih sang kakak yang kelakuannya agak misterius. Disanalah Thomas bertemu Edith. Thomas memuji tulisan-tulisan Edith yang dia anggap menarik, padahal penerbit bilang kalo tulisan kayak begitu gak bakalan bisa laku. Sesingkat itu pula Edith yang polos dan naif pun jatuh cinta pada Thomas.



Suatu hari ayah Edith ditemukan terbunuh secara keji dan misterius. Edith yang kini tinggal sebatang kara pun gak punya pilihan lain selain menikahi sang pria pujaan yaitu Thomas. Mereka pun menikah kemudian memutuskan pindah ke rumah keluarga Thomas di Allerdale Hall. Rumah itu sangat besar dan megah tapi gak terawat dan terlihat suram. Thomas tinggal berdua bersama sang kakak yang gue sebutin tadi, Lady Lucille.



Seiring waktu, Edith pun menemukan beberapa kejanggalan di rumah itu, yang membawanya pada kejadian masa lalu tentang Crimson Peak yang dibisikkan oleh hantu sang mama. Belum lagi kelakuan sang kakak ipar yang misterius dan mencurigakan. Lucille selalu berusaha menggiring Thomas pada kenangan masa lalu bersama Crimson Peak. Keberadaan tanah liat berwarna merah di bawah fondasi Allerdale Hall pun menuntun Edith buat mengungkap misteri di balik Crimson Peak.
Gimana lanjutan ceritanya? Apa sih Crimson Peak itu? Ada apa dibalik kelakuan Lucille yang misterius? Berhasilkan Edith mengungkap misteri Crimson Peak?



Film ini lumayan bikin gue merinding, hanya dengan nuansa gotiknya yang suram, suara deritan pintu, suara atap yang rusak bahkan daun-daun berjatuhan. Pembangunan atmosfer creepy dan suram berhasil bikin film ini tampil outstanding tanpa harus menampilkan sosok hantu secara berlebihan. Gue suka sama cara film ini menampilkan bangunan-bangunan tua mulai dari kastil dan rumah-rumah di antara hamparan salju, yang katanya sih dibuat sendiri sama kru filmnya. Wow, daebak! Dan di antara adegan-adegan mencekam itu yang paling gue inget adalah hamparan darah di atas salju, karena kontras banget kan. Serem sih tapi entah kenapa gue malah keinget sama es serut yang disiram sirup stroberi hahaha.




Yang gue tangkap dari film ini adalah, manusia kadang bisa ngelakuin hal yang lebih jahat dari setan atau hantu, dan adanya hantu dalam cerita ini hanya sebagai penuntun buat mengungkap sisi yang lebih gelap dari hantu itu sendiri. Duh ribet amat yak. Unsur romance antara Edith dan Thomas sendiri cuma jadi epilog cerita aja sih kalo menurut gue, dan munculnya tokoh dokter Alan McMichael (Charlie Hunnam) sebagai orang ketiga juga cuma sekedar numpang lewat dan gak begitu penting. Dan di akhir cerita gue jadi kasihan sama Thomas dan Lucille yang udah jadi korban keserakahan orang tuanya. Akting para pemainnya jempolan. Dan yang paling jempolan dari film ini ya settingnya yang cucok banget cyin, kalo foto-foto di sana pasti yang like bakal banyak banget hahaha. Overall filmya bagus, ceritanya sih masih lagu lama, tapi disajikan dengan apik dan memuaskan. Score 8,5/10.

Sinopsis dan Review Film Single (2015) Raditya Dika

 Hola buddies udah pada nonton film terbarunya Raditya Dika belum? Judulnya Single. Di antara kalian pasti ada yang ngikutin banget jejaknya Raditya Dika sebagai pionir produsen kisah-kisah jomblo ngenes di Indonesia, mulai dari buku-bukunya yang nyeritain kisah hidupnya dengan gaya bahasa yang super absurd, kiprahnya di dunia stand up comedy sampai seri Malam Minggu Miko dan beberapa film layar lebar


Kalo gue bilang Raditya pinter banget menangkap isu-isu sosial yang lagi hits khususnya di kalangan anak muda, mengemasnya sedemikian rupa dan menjadikannya ‘barang jualan’ yang bisa dibilang laku keras di pasaran. Nah salah satu yang terbaru adalah film bertajuk ‘Single’. Menurut gue Raditya Dika udah ngambil langkah berani ngerilis film ini di waktu yang berdekatan sama film luar yang di tunggu-tunggu banget macam Star Wars. Tapi gue jamin film ini gak kalah recommended kok buat ditonton. So lets go on with the review!

pic. from Google
Film ini menceritakan seorang jomblo ngenes di penghujung usia 20 bernama Ebi (Raditya Dika). Gue masih gak paham kenapa Raditya Dika demen banget sama nama-nama hewan, selain di buku-bukunya yang selalu diiringi dengan nama hewan, perannya sebagai Miko yang banyak orang bilang mirip nama gukguk, nah sekarang Ebi, yang kalo gak salah udang kering yang kecil-kecil itu kan? Oke kita lanjutkan. Selain eksis sebagai jomblo ngenes Ebi juga masih sukses jadi pengangguran di umurnya yang sekarang. Ebi masih suka minta uang sama mamanya. Berbanding terbalik dengan Ebi, sang adik Alva (Frederik Alexander), adalah pria tampan dan mapan idaman para wanita.
Suatu hari kostan Ebi kedatangan seorang penghuni baru bernama Angel (Annisa Rawles). Angel adalah seorang mahasiswi kedokteran yang pastinya cantik dong yah. Ebi pun naksir berat pada Angel dan mulai melancarkan aksinya buat ngedeketin Angel. Ebi dibantu sama dua temennya yang gak kalah absurd yaitu Wawan (Pandji Pragiwaksono) yang belagak paling tau segala hal, dan Viktor (Babe Cabita) yang parno banget sama hantu dan setan.

pic. from Google
Perjalanan Ebi sebagai jomblo ngenes yang siap membidik target baru pun dimulai. Perjalanannya udah pasti gak mulus-mulus aja, karena di sana ada Joe (Chandra Liow), abang-abangannya Angel yang udah saling kenal sejak mereka masih kecil. Udah bisa ditebak dong maunya si abang ini apa? Yap, jadilah Joe dan Ebi bersaing buat ngedapetin hati Angel. Gimana lanjutan ceritanya? Siapakah yang bakal memenangkan hati Angel? Tonton deh guys. Gue jamin filmnya lucu. Serius, lucu!
Gue agak kecewa dengan film Raditya Dika sebelumnya yang judulnya Marmut Merah Jambu. Karena entah kenapa lawakannya tuh garing dan ceritanya agak dipaksain. Tapi kalo di film ini, Raditya Dika sebagai pemeran utama sekaligus sutradara berhasil bikin gue ketawa, ditambah tingkah Wawan dan Viktor yang konyol banget, dan gue gemes sendiri liat kelakuan Joe yang super annoying dan ngeselin. Gue gak berharap lebih sama akting para pemain terlebih karakter Ebi, gak tau emang mukanya selalu datar atau gimana, tapi di situlah letak lucunya. Ebi selalu berekspresi datar di setiap situasi. Dan Angel, sayangnya agak kaku di sini. Justru Joe lah yang berhasil merebut perhatian gue dengan segala tingkah ajaibnya buat nyingkirin Ebi.

pic.from Google
Film ini digarap dengan cukup aman, gak begitu wow tapi gak mengecewakan juga. Kita bakal dikasih bonus beberapa view Bali yang cakep banget. Pas banget buat hari-hari musim liburan kayak sekarang. Kok gue jadi baper ya, baper pengen liburan juga gitu maksudnya :’) Overall filmya keren dan recommended buat mengisi waktu liburan kalian. Score 8/10.

Review Film Korea Love Forecast / Today’s Love (2014) : Friendzone on Another Level

Pernah jadi korban PHP? Korban modus? Korban friendzone? Gue yakin di antara kalian belum ada yang ngerasain friendzone tingkat veteran kayak yang dialamin sama Lee Seung Gi di film Love Forecast. Mungkin film ini belum bisa disejajarin sama film 500 Days of Summer, tapi di jamin Love Forecast bakal bikin kalian bersyukur gak pernah ketemu cewek yang PHP nya sekampret Moon Chae Won di film ini.


Love Forecast menceritakan sepasang sahabat yang udah sahabatan sejak mereka anak-anak, yaitu Kang Joon Soo (Lee Seung Gi) dan Kim Hyun Woo (Moon Chae Won). Joon Soo berprofesi sebagai guru sekolah dasar, sedangkan Hyun Woo berprofesi sebagai pembaca berita cuaca di salah satu stasiun televisi. Hyun Woo dikenal sebagai reporter yang seksi dan atraktif dan menjadi idola di kalangan para pria. Hyun Woo bahkan memiliki julukan sebagai Sang Ratu Cuaca.
Di usia mereka yang hampir memasuki kepala tiga, urusan percintaan mereka bisa dibilang carut marut ibarat lalu lintas jalur pantura di musim mudik lebaran. Joon Soo selalu sukses dicampakkan oleh pacar-pacarnya, sedangkan Hyun Woo memilih untuk menjalin cinta terlarang dengan Dong Jin (Lee Seo Jin), produsernya yang udah menikah dan mempunyai anak.



Sebenernya banyak cowok yang siap antri buat Hyun Woo, salah satunya adalah Andrew (Jung Joon Young), seorang fotografer amatir yang setia mengagumi Hyun Woo dari jauh, dan Joon Soo, sang sahabat yang selalu siap sedia saat dibutuhkan kapanpun dan di manapun. Joon Soo selalu siap menjemput Hyun Woo saat mabuk entah itu karena galau dengan pekerjaan atau si om, saat Hyun Woo butuh tempat curhat bahkan melampiaskan amarah. Joon Soo ibarat obat penenang bagi Hyun Woo yang punya karakter buruk mulai dari doyan mabok sampe marah-marah.



Hubungan Hyun Woo dengan si om akhirnya menjadi bumerang bagi karir Hyun Woo. Hyun Woo pun harus menelan pil pahit mulai dari sanksi sosial masyarakat sampe ancaman pemecatan. Di tengah situasi itu Joon Soo lagi-lagi siap menjadi ibu peri penolong buat Hyun Woo. Joon Soo dengan berbagai upaya dan kode kerasnya tak kunjung mendapat respon dari Hyun Woo. Hyun Woo justru makin menjadi-jadi dengan memperlakukan Joon Soo seenak jidatnya tanpa peduli sama perasaan Joon Soo. Situasi makin buruk waktu Andrew, sang secret admirer mulai melancarkan aksinya buat deketin Hyun Woo. Semakin njelimetnya hubungan di antara mereka pun akhirnya meledak dalam sebuah pertengkaran yang bikin mereka menjauh satu sama lain. Gimana lanjutan ceritanya? Akankah Joon Soo dan Hyun Woo bersatu?






Film ini sebenernya udah punya modal kuat buat jadi keren dilihat dari karakteristik dua tokoh utamanya ditambah chemistry yang oke dan jalan cerita yang lagi hits banget seputar friendzone. Komedinya juga cukup bertebaran di sepanjang film tapi buat gue film ini hanya berakhir di kata ‘lumayan’. Gregetnya sih udah dapet banget dengan kelakuan semena-mena nya Hyun Woo tapi selalu disikapi dengan sabar dan manis oleh Joon Soo. Bersyukur banget deh kalo dapet cowok model begini. Pembangunan karakter dan konflik udah digambarkan dengan baik di awal-awal film tapi makin lama konfliknya tuh agak dibikin ribet tapi jatohnya malah jadi boring. Kehadiran Andrew sebagai orang ketiga juga cuma sekedar numpang lewat aja di film ini. Film ini masih bisa dinikmati namun dengan kepuasan sekadarnya. Score 7,5/10.

Senin, 28 Desember 2015

MV REVIEW : iKON – Dumb & Dumber

Sepertinya tahun 2015 jadi tahunnya iKON banget yak. Gimana enggak, mereka pun akhirnya debut dengan barisan MV yang dirilis di waktu berdekatan. YG mainnya keroyokan nih :P Tapi seperti kata pepatah tak kenal makan tak sayang, mungkin inilah cara YG mengenalkan iKON kepada KPopers.


Kalo menurut gue iKON udah berhasil merebut perhatian dan buat ukuran rookies sih menurut gue mereka udah cukup sukses. Setelah bergalau-galau ala sinetron di MV ‘Apolgy’ iKON kembali merilis dua MV bertajuk Dumb & Dumber dan Whats Wrong? Nah sekarang gue mau nulis review Dumb & Dumber dulu nih chingu. Soooo lets begin!

Concept



Gue gak ngerti sama maksudnya YG yang bikin iKON loncat-loncat dari satu konsep ke konsep lain di waktu berdekatan. Baru aja iKON rilis MV yang mengharu biru dengan nuansa minimalis di ‘Apology’, tiba-tiba mereka muncul dengan konsep geeky dan gila di MV Dumb & Dumber. Mulai dari set, genre lagu, semuanya bener-bener jungkir baliknya ‘Apology’. Mungkin YG pengen menampilkan iKON yang bisa melahap semua jenis lagu dengan baik. Such a nice try YG, but so sorry i have to say kalo gue malah jadi bingung sama jati dirinya iKON. Mungkin YG pengen bikin iKON sebagai the next BIGBANG? Gue ngerasa kalo YG masih meraba-raba mau dibawa kemana sih iKON ini.

Bobby kalo bobo mangap ya :D lucuuk
MV dimulai dengan adegan B.I dan Bobby yang bobo-bobo manja di atas ranjang dengan piyama dan bantal guling. Mungkin YG pengen menampilkan sisi iKON yang lebih humanis dengan B.I yang kalo tidur ternyata ngorok sampe guling-guling :P Adegan bergeser ke scene para member di dalam sebuah mobil, mungkin inti ceritanya adalah boys just want to have fun, karena dari situ digambarkan para member beraksi gila-gilaan dan tampil konyol, beda jauh sama ‘Apology’ yang menampilkan para member yang ganteng kalem dengan atmosfir ultra galau. MV diakhiri dengan adegan mandi bola di sebuah kolam bernuansa hitam putih.



B.I sama Bobby menang banyak ya di MV ini. Mereka dapat jatah on screen banyak banget dibanding member yang lain. Gue ngerasa kalo ini bukan iKON, tapi B.I Bobby feat iKON, member lain kesannya kayak jadi pelengkap aja :( oke Bobby dan B.I emang ganteng dan talented tapi apa kabar sama member yang lain? Mungkin karena mereka lebih fotogenik atau lebih ekspresif dibandingkan member yang lain/? Gimana menurut kalian?

Song

gue gak paham ini anak lagi ngapain :P
Awalnya lagu ini agak aneh di kuping gue, dengan tempo yang naik turun gak karuan dan duet maut rapp antara B.I dan Bobby, yang nemplok di kepala gue cuma part la-la-la nya aja. Dan lagi, gue agak kecewa karena lagu ini dilahap habis sama B.I dan Bobby aja. Member lain nyanyinya cuma sepotong-sepotong gitu, kena autotune lagi. Ini tipe lagu yang awalnya agak aneh dan harus didengerin berulang-ulang kemudian muter-muter terus di kepala selama beberapa hari. Sayang banget autotune nya kebanyakan.

Lyrics

Lagu ini menceritakan tentang orang yang pengen party dan ngelupain semua beban kehidupan di dunia fana ini, buat sejenak gue mau gila-gilaan dulu dah. Mungkin begitulah inti dari lagu ini. iKON gak nanggung-nanggung loh kalo party tuh sampe ke luar angkasa melayang-layang di udara. Cerita lagu ini tervisualisasikan dengan baik lewat MV ini. Para member dibuat tampil gila, geeky, dan konyol di sepanjang MV. Gue cukup terhibur sih bisa liat cowok-cowok ganteng tampil gila gak pake jaim, kalo tidur garuk-garut pantat bahkan ngupil terus dicium lagi upilnya ewww~ Lumayan lah sebagai penghibur di tengah kehidupan yang keras ini kawan hahaha.



garuk garuk pantat while sleeping is a must!



Overall MV ini bagus, sedikit weird khas YG dan berhasil mengeksplor talent iKON yang bisa membantai habis semua jenis lagu. Saran gue sih member lain biar dikasih jatah on screen agak banyakan dikit kek, kan sayang udah ganteng-ganteng tapi kesilep terus tuh ama yang bedua :( No hate ya, dont bash me please. Score 8/10.

Review Film The Perks of Being a Wallflower (2012)

Holaaa buddies udah lama banget nih belum sempet nulis review film lagi. Sekarang gue mau nulis review salah satu film lama yaitu The Perks of Being a Wallflower yang rilis di tahun 2012. Ini salah satu film yang gak akan pernah bikin bosen berapa kalipun gue tonton, dan gue barusan aja kelar nonton ulang buat yang ke sekian kali. Ajaibnya, gue baru sadar kalo pemeran Mary Elizabeth (Mae Withman) adalah si Bianca Piper di film The Duff! Astaga gue heran sendiri kemana aja kok baru mudeng sekarang :P Oke lupakan kekonyolan gue yang telat nyadar and lets go on with the review!


Film ini mengusung tema coming of age dengan segmen penonton kalangan remaja galau yang lagi memasuki masa transisi kehidupan. Apa jualan utamanya? Kisah romantis? Persahabatan? Komedi? Gue sendiri takjub karena standar film coming of age dengan karakter-karakter klasik dengan jalan cerita yang kalo gak klise ya konyol, bukanlah jualan utama dari The Perks of Being a Wallflower. Film ini mengusung cerita remaja dengan permainan emosi yang menarik, gak bosenin, dan enak banget ditonton, gak cuma buat remaja tapi juga orang dewasa.



Diceritakan Charlie (Logan Lerman), adalah tokoh dengan karakteristik klasik, seorang remaja pintar tapi cupu dan terasing di lingkungan sosialnya. Charlie sebenarnya sangat optimistik dan punya sejuta mimpi, dia bahkan udah punya rencana jangka panjang setelah lulus SMA nanti di hari pertamanya masuk sekolah. Tapi Charlie gak terlalu suka ‘tampil’ di muka umum, Charlie lebih milih diam waktu diberikan pertanyaan oleh guru bahasa Inggrisnya, Mr. Anderson, walaupun sebenarnya dia tau jawabannya. Charlie juga gak begitu pintar bergaul, canggung, dan gak punya teman dekat.



Singkatnya, Charlie adalah anak buangan. Di tengah perjalanannya sebagai anak buangan di SMA, Charlie bertemu Patrick (Ezra Miller), another anak buangan di sekolah. Bedanya dengan Charlie, Patrick cenderung bodo amat dengan statusnya sebagai kaum buangan, dan memilih buat selalu happy di manapun dan kapan pun. Patrick punya seorang sodara tiri bernama Sam (Emma Watson). Walaupun cuma sodara tirian, mereka selalu akur dan kompak. Singkat cerita mereka bertiga pun berteman baik dan Charlie mulai berubah jadi lebih ceria. Tokoh-tokoh lain pun mulai bermunculan dan melengkapi kelompok itu sebagai sebuah ‘geng’ anak buangan. Charlie diam-diam suka sama Sam, tapi karena suatu ’kecelakaan’ Charlie malah terjebak dalam hubungan bersama Mary Elizabeth (Mae Withman) yang juga salah satu anggota dari geng mereka. Jadilah mereka terlibat kisah cinta segitiga yang njelimet dengan komplikasi friendzone tingkat dewa yang bikin kesel kebangetan.



Sepanjang cerita, mulai terungkap masa lalu Charlie yang kelam yang menjadikannya seorang yang canggung dan kaku saat ini, juga Sam yang ternyata juga punya masa lalu yang gak kalah kelam dari Charlie. Nah sekelam apa sih masa lalu mereka? Awalnya gue agak bingung ini film ceritanya mau dibawa kemana sih? Tapi di tengah kebingungan itu gue justru bisa menikmati setiap alur dan konfliknya.



Tiap tokoh di film ini punya peranan masing-masing yang bikin film ini jadi salah satu film dengan paket komplit yang pernah gue tonton. Yang terbaik adalah Mary Elizabeth. Kehadirannya sebagai orang ketiga gak cuma numpang lewat. Karakternya sebagai seorang penganut Buddha dengan tampilan nyentrik dan berjiwa pemberontak juga unik banget. Juga Patrick yang ternyata adalah seorang gay yang ngejalanin hubungan backstreet dengan cowok paling populer di sekolah, akhirnya harus patah hati karena gak diakuin dan kemudian berujung dengan ciuman maut dengan Charlie. Sumpah ini adegan paling awkward yang pernah gue liat di film.



Adegan ikonik d film ini yaitu waktu Sam berdiri di atas mobil bak terbuka dengan tangan dibentangkan ala-ala film Titanic melewati sebuah terowongan. Soundtrack nya juga enak-enak. Gue kagum sama Emma Watson yang berhasil keluar dari karakter Hermione Granger di film ini, karakternya sebagai cewek cantik berjiwa bebas dan sedikit nakal tuh memorable banget dan gue pikir mungkin gak ada aktris lain yang bisa meranin Sam sebaik Emma. 



Endingnya lumayan bikin melongo, agak keluar jalur tapi pas buat jadi klimaks. Dan kenapa gue bilang film ini paket komplt? Kalian bisa menikmati sebuah kisah cinta dan persahabatan dengan berbagai elemen kehidupan yang mungkin dirasain hampir semua orang, masa-masa high school yang seru, sakitnya patah hati dan sampai kisah move on dari masa lalu. Komedinya juga pas sebagai pemanis. Banyak quotes menarik juga di film ini. Overall film ini recommended pake banget deh. Score 8.5/10.


Senin, 21 Desember 2015

MV REVIEW : Royal Pirates – Run Away

Annyeooong chingu! Gue balik lagi nih dengan another MV Review. Jadi ceritanya kemarin tuh gue lagi disibukkan dengan urusan wisuda mulai dari cari baju, cari tempat dandan dan segala macem ritual ribet khas wisuda. By the way aku udah resmi jadi sarjana nih kamu gak mau ucapin apa gitu? Oke lupakan.

MV REVIEW : Royal Pirates – Run Away

Jadi ceritanya kemarin waktu nonton TV di salah satu channel gitu, muncullah MV dari grup band yang gak pernah gue denger sebelumnya, namanya Royal Pirates. Dan reaksi gue begitu tayangan MV itu selesai, gue pun bertanya-tanya kemana aja gue selama ini kok baru nemuin ‘harta karun’ ini sekarang? Sumpah lagunya tuh keren pake banget! Kalo kata anak kekinian sih hacep banget kakak, dengan aransemen EDM yang dipadu sama musik rock gitu. Keyboardist nya ganteng yak kalo menurut gue sih semacam paduan Siwon dan Adam Levine gitu muehehe. Usut punya usut, namanya adalah James dan sebenernya dia adalah bassist di Royal Pirates, tapi karena cedera lengan akhirnya dia libur dulu deh main bass nya. Oke sepertinya daftar bias gue nambah satu. Duh gue curhatnya udah kepanjangan nih hahaha so lets begin with the review!

Concept

MV REVIEW : Royal Pirates – Run Away


MV ini punya konsep yang cukup simpel, menampilkan para member dengan alat musiknya masing-masing di atas set polos dan pencahayaan minimal. Dilanjutkan dengan adegan sang drumer dengan bunga lotus di tangan dan pandangan sayu *bunga lotus bukan sih itu/?* Juga James yang lagi teriak-teriak manja pinggir empang, mungkin karena habis putus dengan pacarnya? Sinematografinya dibikin agak dramatis gitu, dan terus bolak balik dengan set minimalis yang gue sebutin tadi. 

MV REVIEW : Royal Pirates – Run Away


Konsepnya cukup aman, dan puncaknya itu waktu adegan sang drummer yang bermain drum dengan mata tertutup dan tangan terikat rantai besi, juga vokalisnya yang nyanyi dengan mulut tertutup layar handphone gitu. Mungkin maksudnya mereka lagi melakukan sesuatu dengan kontrol dari orang lain. MV diakhiri dengan turunnya butiran salju di set musik mereka diiringi permainan instrumen yang emosional. Gue suka dengan cara mereka mainin alat musik masing-masing. Kayaknya anteng banget dan menjiwai gitu. Mereka juga gak pake make up macem-macem, ganteng-ganteng, dan aigoo James, how to marry you? Jangan ngamuk-ngamuk lagi sambil banting gitar bass ya sayang :)

MV REVIEW : Royal Pirates – Run Away


Song

MV REVIEW : Royal Pirates – Run Away

Sumpah gue gak tau mesti review apa lagi soal lagunya. Keren bangeeet kakak! Temponya mengalir dari lambat ke cepat dan enak banget di kuping. Ini lagu EDM K-Pop favorit gue tahun ini setelah PSY “Daddy”. Dan lagi-lagi gue gak habis pikir kok baru sekarang nemuin Royal Pirates karena musik mereka tuh keren banget! Gue pun langsung cus download semua lagu mereka, dan sekarang masih nongkrong cantik sebagai most played song di playlist gue :D

Lyrics
Kalo soal lirik gue belom bisa bahas nih. Entah lah susah banget cari translet english buat lagu ini. Ditambah koneksi lagi agak nyebelin. Dan setelah gue searching sana sini dan nonton beberapa MV mereka di Youtube, mereka termasuk underrated banget yak, padahal keren loh jarang-jarang ada group band dengan konsep begini eksis di industri K-Pop. Harapan gue sih mudah-mudahan mereka bisa get more attention, keren banget loh beneran yok sini coba cek sendiri ke TKP.




Sekian review dari gue. Gue recommend banget lagu ini buat masuk ke playlist kalian. So what do you think? Leave a comment ya! Thanks for reading and have a nice dayJ

Rabu, 16 Desember 2015

MV REVIEW : Yerin Baek – Accross The Universe

Setelah mendaulat member 15& Park Jimin buat debut solo, JYP kembali menghadiahkan debut solo buat member satunya lagi, yaitu Baek Yerin. Alih-alih debut dengan nama Baek Yerin, JYP lebih memilih nama Yerin Baek, sama dengan Jimin yang juga debut sebagai penyanyi solo dengan nama Jimin Park. Ah sudahlah yang penting akhirnya merekapun debut solo juga, karena dari awal gue juga udah penasaran dengan projek 15&. Gue udah nebak someday JYP bakal ngedebutin mereka sebagai penyanyi solo kayak Baek Ayeon, dan 15& hanya sebagai tahap awal pengenalan mereka aja. Yerin debut solo dengan sebuah mini album berjudul Frank, dengan single andalannya Accross The Universe. So guys lets go on with the review!


Konsep


MV ini mengangkat tema kegalauan seorang cewek yang lagi LDRan sama pacarnya. Yerin digambarkan sedang merenung syahdu karena rindu pada sang kekasih yang berada di planet lain/? *lebay banget sih neng* Yerin tampil beda di MV ini dengan rambut pirang yang dipotong pendek. Mirip sama debut solonya Sunmi gak sih? Jujur gue lebih suka liat Yerin dengan rambut hitam panjang. Berhubung pipinya agak chubby, warna rambut yang terang benderang itu bikin ke-chubby-an nya semakin kentara. Tapi its oke lah karena emang udah cantik dengan kulit semulus itu pipi chubby gak jadi masalah :P Musiknya mungkin semacam jazzy pop atau apalah namanya :P Nuansa galau dan set MV nya ngingetin gue sama MV Girls Day “I Miss You” dan Lim Kim “Voice”.

Kostum

Soal kostum sih gak ada yang istimewa, berhubung ceritanya lagi galau cantik di rumah sambil menatap sendu ke luar jendela itu emang paling pas baju yang simpel, serba longgar dan comfy. Aksi galaunya agak lebay kalo menurut gue, mulai dari megang es krim cone sampe leleh, numpah numpahin air dari gelas, dan ngejejerin buku di lantai terus dilangkah-langkahin gitu. Itu galau apa gabut sih neng :(

Lagu

Lagunya enak buat pengantar bobo. Suara Yerin yang jernih ditambah aransemen musik yang soft dan kalem jadi formula ampuh buat menenangkan diri sejenak. Gak perlu nada-nada tinggi buat mengeksplor kualitas suaranya Yerin yang emang udah enak. Thanks to Jyp yang akhirnya ngasih kesempatan Yerin buat debut solo. Good job!

Lirik


Soal lirik, gue harus bilang liriknya emang pas banget buat pasangan yang lagi sayang-sayang nya lalu harus terpisah dan menjalani LDR. Cukup ampuh buat naikin suasana galau ketika lagi kangen sama pacar nun jauh disana. Tapi lagi-lagi, dosis galaunya tuh agak lebay. 

“Come over to me fast now
It’s so gloomy here without you
Hands held tight,
I’m all ready not to lose you”

Rasanya pengen gue peluk terus gue usap kepalanya sambil bilang, udah neng jangan galau:(

Udah deh gitu aja. Overall MV ini cukup aman buat debut solonya Yerin. Mungkin butuh waktu dan proses buat JYP menemukan konsep dan karakter yang pas buat Yerin, karena Yerin sendiri udah punya modal yang kuat buat jadi penyanyi solo. ut so far lagu-lagunya Yerin di album ini enak-enak kok, ditambah lagi ada beberapa lagu dengan lirik bahasa Inggris. Kedua member 15& bener-bener punya kualitas yang mumpuni sebagai penyanyi. Gimana menurutmu? Score 7,5/10

Thanks for reading and have a nice day!


MV REVIEW : PSY – Daddy

Hello guys i’m back! It’s been a while since my latest post so today i want to post some MV review nih. Jadi ceritanya kemarin gue lagi sibuk menenangkan jiwa dan raga dari kepanikan pasca sidang skripsi. Kebetulan banget hotel tempat gue nginep sudah berbaik hati menyediakan koneksi wifi yang kuenceng banget.

MV REVIEW : PSY – Daddy

Alhasil gue bawa pulang oleh-oleh beberapa film dan MV baru buat di review hehe. Pertama gue pengen nulis tentang MV barunya PSY yaitu Daddy. It’s something fresh, kinda creepy but super catchy dan lagunya sukses muter-muter terus di kepala. Single ini jadi andalan di album ke 7 nya PSY selain ‘Napal Baji’ dan sudah meraih angka puluhan juta viewers di situs Youtube.Oke lets go n with the review!




Konsep

MV REVIEW : PSY – Daddy

Soal bikin konsep yang anti mainstream dan agak nyeleneh sih emang YG juaranya. Terbukti waktu gue pertama liat MV ini. Apa cuma gue yang langsung ngecek volume gadget waktu MV ini dimulai? Sunyi senyap gitu eh tiba-tiba lahirlah bayi PSY hahaha. Diceritakan kalo PSY emang udah seksi dari lahir dan jadi idola cewek-cewek di sekolahnya. Menurut gue ini single PSY terbaik sejak Gangnam Style. Gue gak begitu mudeng dengan Gentleman dan Hangover, dan di tengah huru-hara tren musik EDM saat ini, menurut gue PSY cukup sukses dengan hentakan Melbourne Bounce di single Daddy. Dan ada bonus penampakan CL juga di MV ini, cantik banget gak sih? So Blackjacks, jangan dulu baper ya nunggu kapan kepastian 2NE1 comeback. Overall sih konsepnya masih mirip-mirip Gangnam Style tapi yang ini lebih matang dan pastinya super hillarious!

Lagu

MV REVIEW : PSY – Daddy

Skor tertinggi MV ini terletak di lagunya yang super catchy. Hentakan EDM yang kalo kata anak sekarang hacep banget ditambah repetisi di line “I got it from my Daddy” bener-bener sukses bikin jempol kaki gue gerak-gerak sendiri tanpa gue sadarin. Part nya CL sih gak begitu banyak, kesannya cuma sebagai pemanis aja. Ada juga si cantik Ha Ji Won yang jadi guru SD di MV ini. Dan sekarang lagu ini pun sukses jadi most played song di playlist gue. Tapi seperti biasa, kalo gue udah suka sama satu lagu, gue bakal repeat terus sampe ribuan kali sampe enek dan mau muntah dan akhirnya gue hapus dari playlist hahaha. So let see sampe kapan lagu ini mampu bertahan di playlist?

Kostum

MV REVIEW : PSY – Daddy

MV REVIEW : PSY – Daddy


Ini MV Kpop paling gila yang pernah gue tonton! Kenapa? Gue agak ngeri sebenernya waktu liat bayi dengan muka PSY yang tengil itu tumbuh besar lalu nyanyi dan joget-joget dengan badannya yang super lentur. Kamu bisa liat PSY dengan seragam anak SD sampe baju kelap kelip ala Elvis Presley. Semua kostum konsepnya colorful, mungkin disesuaikan sama lagunya. Lumayan bikin mata melek.

Lirik
Lagu ini punya lirik yang cukup terngiang-ngiang terus di telinga, terlebih part ‘I got it from my Daddy’ yang diulang-ulang itu. Dan gue dapet kata-kata gombalan baru nih dari lagu ini, “U be ma curry I be yo rice.” Sebagai pecinta kari gue bisa super relate banget dengan kata-kata itu :P Sisanya di dominasi dengan part DAD DAD DAD DAD Daddy. Oh daddy...

Overall gue suka sama comebacknya PSY dengan hits Daddy ini. Semacam jadi breaktrough buat single Hangover dan Gentleman yang ga jelas rimbanya :( Gimana menurut kalian? Score 8/10.

Thanks for reading and have a nice day!


Kamis, 10 Desember 2015

Review Film The Martian (2015) : Petualangan Epik di Planet Merah

Selama ini gue cuma nonton film bergenre drama, komedi atau horror. Thriller juga sih kadang-kadang kalo udah banyak review yang bagus. Genre-genre di luar itu kayak film epik atau sci-fi bisa dibilang jarang banget nonton. Pertama kalo soal alien atau makhluk ajaib dari luar angkasa itu agak males karena nontonnya harus sambil mikir. Kedua, karena harus sambil mikir kadang malah suka bikin ngantuk. Film sci-fi terakhir yang gue tonton adalah Gravity, dan itu lumayan bikin gue setengah sadar dan matiin laptop di pertengahan film. Ada lagi film Interstellar, gue baru sempet skip-skip aja filmnya dan belum pernah nonton sampe habis.


Kenapa gue nonton The Martian? Yap, karena banyak yang nulis review bagus tentang film ini hahaha. Korban review banget yak. Tapi beneran deh, film ini tuh keren banget. Walaupun kamu bukan pecinta genre sci-fi, film ini wajib kamu tonton.



Sinopsis. Film ini memiliki setting sekitar 20 tahun yang akan datang, dimana manusia sudah bisa menjelajah Mars dan melakukan ekspedisi. Mark Watney (Matt Damon), adalah salah satu crew Ares III yang sedang menjelajah mars bersama rekan – rekannya, mereka terjebak badai pasir dan harus membatalkan misi. Sialnya, Mark malah ketinggalan di Mars. Jadilah Mark terombang-ambing di planet merah, antara hidup dan mati.


Konflik utamanya adalah bagaimana Mark bertahan hidup di Mars dengan peralatan seadanya sambil terus berusaha menghubungi NASA. Masalahnya? Mark baru bisa melakukannya setelah 4 tahun, sementara persediaan yang ada gak cukup. Penonton harus siap-siap dibikin waswas menyaksikan perjuangan Mark untuk bertahan hidup dan menghubungi teman-temannya di NASA. Gue jadi keinget film Naruto The Last waktu Jinchuriki nulis di permukaan bulan buat ngasih tau kalo mereka masih hidup. Lalu apa yang bakal dilakuin Mark buat ngasih sinyal ke orang-orang di bumi?



Selama nonton film ini, kita bakal diajak berpikir dengan cara yang enak. Seperti yang gue bilang, gue paling males kalo harus nonton film sambil mikir. Tapi The Martians dengan segala formula ajaibnya mampu bikin gue bertahan nonton film di luar kebiasaan gue selama 141 menit. Kalo gue jangankan ketinggalan di Mars, terdampar di pulau gak berpenghuni aja, eh enggak deng, pas handphone ketinggalan pun bisa kena panic attack dan huru-hara satu kampung XD Tapi Mark dengan keceriaannya sama sekali gak terlihat depresi ketinggalan di Mars. Dia malah ngulik gimana caranya nanem kentang di Mars biar bisa bertahan hidup, walaupun gue agak ngeri dengan cara dia nanem kentang itu.




Gue agak penasaran sama gravitasi di Mars sama di Bumi tuh sama nggak sih? Mark bisa dengan entengnya jalan-jalan cantik di permukaan Mars bahkan menobatkan diri sebagai bajak laut di Mars. Banyak jokes terselubung juga di sini, mesti mikir dulu sekilas buat ngerti maksudnya apa. Tapi ah sudahlah kalian tonton aja sendiri. Di jamin puas deh. Visualisasi Mars nya juga keren dan epik bingit. Sedikit kejutan dengan kekonyolan sepanjang film, endingnya justru berhasil bikin mata basah kuyup. Score 8.5/10

Review Film Badoet (2015) : Horror Rasa Original, Tanpa Cabe

Apa yang kamu pikirkan ketika ditanyakan tentang film horror Indonesia? Hantu-hantunya yang seksi? Ajaib? Aneh? Gak jelas? Mulai sekarang ilangin deh persepsi-persepsi itu, karena sekarang film horror Indonesia udah balik lagi ke rasa original tanpa bumbu cabe-cabean yang pedes gak karuan. Gue mengamini itu setelah nonton film garapan Awi Suryadi berjudul Badoet.



Badoet ber-setting di lingkungan rumah susun yang padat penduduk. Lingkungan di rumah susun itu berjalan aman dan nyaman seperti lingkungan perumahan pada umumnya. Sampai suatu hari seorang anak kecil menemukan sebuah kotak musik di pasar malam dekat rumah susun itu. Kejadian aneh pun mulai muncul, satu persatu anak kecil di sana meninggal secara mengenaskan dan gak terduga. Kejadian ini membuat Donald (Daniel Topan) penasaran. Donald adalah seorang mahasiswa semester akhir yang kebetulan juga mengenali anak-anak di lingkungan rumah susun itu.


Sinopsis. Donald tinggal dengan sepupunya Farel (Christoffer Nelwan). Kejadian aneh ini secara gak langsung juga mengusik kehidupan mereka. Bersama dengan Kayla (Aurelie Moeremans), mereka mencoba mencari tahu apa yang terjadi dengan fenomena itu, merujuk pada kotak musik yang ditemukan anak pertama. Mereka pun menemui tiga anak kecil yang entah kebetulan atau nggak, mereka menggambar sosok badut dengan wajah yang sama sebelum mereka meninggal.
Sekilas gue jadi keinget film jaman dulu Di Sini Ada Setan, ceritanya tuh gak asing dan pasaran banget. Tapi uniknya,penyajian film ini lumayan bikin gue merinding dengan atmosfer creepy yang dapet banget dari editing, pengambilan gambar, dan efek suara yang bikin kaget. Penampakannya emang gak banyak, tapi dijamin bikin bulu ketek merinding deh. Suara kotak musiknya juga serem, serasa muter-muter di kepala gitu. Kayak lagunya Tip Toe Though The Tulips di Insidious.



Plot nya sederhana, dialognya juga gak terlalu dibuat-buat. Cuma beberapa karakter gak begitu penting buat gue dan cuma menuh-menuhin cerita aja. Tapi tetep, dibanding film-film horror yang hobi keramas atau mandi kembang mah, film ini jauh lebih baik dan lebih sopan pastinya. Durasinya juga gak kepanjangan, 90 menit aja tapi gue puas nontonnya.


Film ini patut diacungi jempol, karena gak butuh trik murahan semacam pemain yang seksi dan hantu yang hobi mandi, such a nice try buat ngangkat citra film horror Indonesia yang terlanjur buruk dengan hantu-hantu ajaib beberapa tahun belakangan. Score 8/10.