Sabtu, 21 November 2015

Perbedaan Musik Indonesia Dulu dan Sekarang


Bicara musik memang gak pernah ada habisnya. Penggemar musik pastinya gak bakal bisa lepas dari musik. Setiap hari tentunya selalu mendengarkan musik entah itu dari televisi, radio, ataupun gadget masing-masing. Seperti halnya zaman, musik Indonesia pun terus berkembang dari masa ke masa. Berbagai hal mempengaruhi warna musik yang digandrungi, termasuk kondisi sosial dan politik pada masa itu. Nah berikut ulasan perkembangan musik Indonesia dari dulu hingga sekarang.

Awal 1900-an

Awal 1900an, muncul para pengusaha rekaman yang didirikan saudagar keturunan Tionghoa, salah satunya adalah Tio Tek Hong yang memiliki toko di Pasar Baru. Saat itu, Tio Tek Hong memproduksi musik lewat piringan hitam alias plaatgramofoon. Tio Tek Hong memproduksi karya dari beberapa penyanyi dan kelompok musik seperti Orkest Kerontjong Park, Orkest Moeridskoe, Kerontjong Sanggoeriang, Kerontjong Aer Laoet dan Kerontjong Deca Park. Perusahaan Tio Tek Hong juga merekam dan meluncurkan piringan hitam  "Indonesia Raya" karya Wage Rudolf Supratman untuk pertama kalinya pada 1929. Piringan hitam tersebut memperdengarkan suara penyanyi pria bersuara tenor yang diiringi orkes dan laris terjual untuk kalangan atas.

Era 1950-an

Pada 1950an, lagu asing berbahasa Inggris dilarang diputar di Indonesia karena Presiden Soekarno khawatir budaya bangsa bakal terkikis sama budaya barat. Pada 1959, pemerintah memastikan Radio Republik Indonesia gak boleh memutar lagu yang disebut Sukarno "ngak ngik ngok" , seperti rock and roll, cha cha, tango dan mambo.Akhirnya pada masa itu musisi Indonesia hanya bermain lenso, lagu daerah, diramu dengan irama khas Indonesia.

Para musisi terkemuka diajak menggarap lagu-lagu berirama lenso, seperti Jack Lesmana, Idris Sardi, Bing Slamet, Nien Lesmana dan Titik Puspa. Soekarno bahkan membawa para seniman musik yang digabungkan dalam proyek The Lensoists dalam lawatan ke Amerika Serikat dan Eropa pada 1964-1965. Selain itu, pada era itu muncul juga kompetisi pencari bakat di bidang tarik suara, yakni Bintang Radio yang digagas Radio Republik Indonesia. Kompetisi ini berkembang menjadi Bintang Radio dan Televisi setelah RRI bekerjasama dengan TVRI dan melahirkan sejumlah talenta seperti Harvey Malaiholo, Rafika Duri dan Sundari Soekotjo, yang namanya menjadi legenda musik Indonesia saat ini.

Era Orde Baru

Setelah Orde Lama tumbang, pengaruh musik dari barat yang awalnya dilarang mulai meluncur cepat masuk ke Indonesia. Banyak musik Indonesia yang mulai berbau barat, misalnya rock psikedelik dan rock progresif. Salah satu band yang sangat berpengaruh saat itu, bahkan hingga saat ini, adalah The Beatles.

Anak muda di Jakarta pun berkiblat kepada band-band Inggris dan Amerika. Pengaruhnya juga terlihat pada pemilihan nama band yang menggunakan bahasa Inggris atau ejaannya dibuat seperti ejaan barat. Sebut saja The Lords, The Flower Poetman dan Chekink.

Musik folk di Indonesia juga mulai masuk ke Indonesia pada era ini. Ada pula musik folk yang liriknya menyuarakan kritik sosial politik, seperti Kelompok Kampungan. Pada 1980an juga mulai muncul musik yang dilabeli sebagai pop kreatif, seperti Fariz RM, Dian Pramana Putra, Utha Likumahuwa dan Candra Darusman. Musik ini muncul sebagai pembeda dengan pop cengeng yang liriknya picisan. Pop mendayu-dayu saat itu dipopulerkan oleh Rinto Harahap, Pance Pondaag dan Obbie Messakh.

Dekade berikutnya, genre pop meroket dan memunculkan nama-nama seperti KLa Project, Dewa 19, Slank dan Gigi juga penyanyi solo seperti Yuni Shara dan Oppie Andaresta serta kelompok vokal Rida Sita Dewi, Trio Libels dan AB Three. Favorit gue di era ini adalah Dewa 19 dan lagu-lagu mereka masih banyak diputar sampai saat ini.


Awal Tahun 1990-an


Di awal 90an industri musik mulai kuat, ada banyak band yang ga bisa dapat kontrak di major label, sehingga yang tidak bisa masuk major mulai bikin rekaman sendiri yang menjadi awal dari band indie. Menjelang akhir 90an, muncul juga kanal MTV yang menyajikan musik global dan turut mempengaruhi band-band indie Indonesia. Ajang MTV VJ Hunt juga menjadi hal yang happening banget saat itu.
Era 2000-an

Era 2000an, teknologi memungkinkan setiap orang mencari referensi musik dari berbagai sumber, termasuk tren masa lalu. Uniknya, orang  bisa balik lagi ke belakang karena bisa ngulik rekaman lama zaman dulu. Banyak orang berpendapat bahwa musik yang ada sekarang merupakan segala campuran dari musik yang pernah ada pada dekade-dekade lalu.

Era 2000-sekarang kembali diramaikan dengan banyak acara pencarian bakat menyanyi di televisi. Banyak banget penyanyi yang terkenal setelah mengikuti atau menjuarai ajang penarian bakat. Kemasannya pun beragam mulai dari Indonesian Idol, X-Factor, The Voice, sampai D’academy bahkan D’Terong Show. Dampak positifnya, orang-orang yang memiliki bakat tapi punya sedikit kesempatan buat dikenal pun sekarang memiliki pintunya sendiri buat masuk ke industri musik.

Namun keragaman musik jadi sangat sedikit sebab musik yang beredar pun cenderung itu-itu saja, bahkan banyak isu plagiarisme yang menimpa penyanyi kita, sebut saja lagu Pusing Kepala Barbie yang katanya mencontek lagunya Meghan Trainor, All about That Bass. Selain penyanyi jebolan ajang pencarian bakat, sekarang orang-orang juga dapat dengan mudah jadi terkenal dengan mengandalkan situs video Youtube. Banyak artis yang berunculan karena video Youtube mereka yang jadi viral, mulai dari video cover lagu sampai video lipsync. Ada beberapa yang survive dan membuktikan kualitasnya sampai hari ini, tapi gak sedikit juga yang cuma jadi one hit wonder dan kini dilupakan.


Nah di era ini, eksistensi MTV mulai memudar dan sebagai gantinya muncullah acara-acara musik dengan host-host segudang.  Itu loh yang itu. Di awal kemunculannya, mungkin hampir setiap TV punya acara-acara seperti ini namun saat ini hanya beberapa saja yang masih eksis. Acara-acara ini tayang pagi hari, menyajikan video clip dan penampilan live artis dalam negeri. Tapi kok belakangan acaranya tambah gak jelas ya, penontonnya rusuh banget, penampilan musiknya juga jadi sekadarnya aja. Banyaknya ya segmen gonjok-gonjokan *apa atuh ya istilahnya?* antar para host, pada ngegosip dan saling buka kartu masing-masing gitu. Yang di TV sebelahnya sih masih mending karena live musicnya masih tetep ada, tapi diselingi sama beberapa game dan semacam variety show.

Dobrakan di dunia musik, misalnya seperti yang dilakukan The Beatles yang pengaruhnya terasa hingga kini, sulit untuk diulangi lagi. Upaya membuat sesuatu yang baru pernah dicoba oleh kelompok Guruh Gypsy yang menggabungkan musik rock dengan gamelan Bali pada 70an. Namun, hal seperti itu jarang terjadi.


Era Pembajakan

Membuat musik pun menjadi semakin mudah, berbagai referensi dapat dicari lewat internet, proses rekaman pun dapat dilakukan sendiri dengan software audio. Bandingkan dengan segala kerepotan yang harus dilalui di masa lalu, di mana merekam lagu hanya bisa dilakukan di studio rekaman, atau ketika suara alat musik tidak dapat digantikan dengan software yang kini menjamur. Hal ini memunculkan dampak positif dan negatif. Para penyanyi gak cukup mengandalkan penjualan album fisik seperti kaset dan cd, karena selain adanya pembajakan fisik juga karena sekarang gampang banget download lagu mereka di internet. Namun setiap orang saat ini dapat dengan bebas mengekspresikan dan mempublikasikan musik mereka tanpa harus masuk dapur rekaman dulu.


Perbedaan musik jaman dulu dan sekarang juga terlihat dari penulisan lirik. Lagu zaman dulu lebih puitis dan indah dalam merangkai setiap katanya. Lirik yang menggambarkan perasaan jatuh cinta tidak dinyatakan secara blak-blakan melalui ucapan i love you, tapi melalui ungkapan puitis seperti Nuansa Bening dan sebagainya. Lirik lagu-lagu masa kini cenderung lebih to the point dan ekspresif, kalimat yang dipilih juga tidak sepuitis dulu. 

Bahkan saat ini banyak ditemukan lagu-lagu dengan judul nyeleneh seperti Eeaaa, Hamil Duluan, Sakitnya Tuh Di Sini, Cabe-Cabean dan masih banyak lagi. Mirisnya lagu-lagu itu juga sering dinyanyikan oleh anak-anak, karena saat ini sedikit sekali penyanyi anak yang menyanyikan lagu yang sesuai dengan umurnya. Kalo menurut gue alangkah baiknya song writer zaman sekarang gak cuma mikir untuk memproduksi lagu yang komersil tanpa menimbang kualitas lirik lagu. Lirik yang ditulis boleh aja ringan dan simpel, tapi gak meninggalkan unsur kesopanan dan kewajaran. Itu aja sih kalo menurut gue. Dan gue sendiri sekarang udah jarang dengerin lagu Indonesia, cuma beberapa penyanyi aja yang masih gue ikutin, malah gue lebih sering dengerin lagu-lagu jaman dulu. Dan sekarang gue malah jadi ngiblat ke musik barat dan K-Pop. Ya mungkin karena musik mereka lebih banyak dan beragam? 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar